Heyder Affan's Site

sebuah kisah...

RAMAI-RAMAI menggunjingkan perusakan situs Majapahit di Trowulan, Mojokerto, saya teringat seorang lelaki berambut putih -- dan bersuara lembut. Han Awal, nama lelaki berusia 78 tahun itu, adalah seorang arsitek senior.

Kuingat Han, karena dia adalah arsitek yang peduli terhadap keberadaan bangunan tua yang bersejarah. Kepeduliannya itu, tentu saja, tak berhenti di tingkat retorika. Dia terjun sepenuhnya pada bidang konservasi bangunan tua bersejarah.

Saya masih ingat, di sebuah sore pada Desember 2008 lalu, di teras belakang rumahnya, yang asri, dia mengutarakan sebuah kalimat yang membekas pada diriku. "Dunia konservasi," demikian Han melukiskan perasaannya, "membuat masa lalu itu menjadi sangat menghidupkan... sangat memperkaya diri, terutama emosional dan jiwa.."

Lelaki kelahiran Kota Malang, Jawa Timur, ini, lantas bercerita kesedihannya tatkala pulang ke kampung halamannya itu. "Saya sedih sekali ketika komplek lapangan tenis, kolam renang, serta stadion 3 tingkat peninggalan Belanda itu dihancurkan, dan dijadikan mal," suaranya hampir hilang. Saya pun sempat terdiam, dan geram..   

Namun dalam perbincangan santai itu, Han Awal yang ikut mengkonservasi Gedung Arsip di Jalan Gadjahmada, Jakarta Pusat itu, begitu bersemangat, ketika bercerita "keberhasilannya" menyelamatkan gedung BI di kawasan kota tua, Jakpus, dari kerusakan. Dia memang dipercaya oleh otoritas BI untuk mengkonservasi bangunan yang kini menjadi musium tersebut.   

***

GEDUNG Musium Bank Indonesia, yang didirikan tahun 1828, kini telah berdiri megah di kawasan kota tua, Jakarta. Bangunan warna putih bergaya neo klasik ini terletak di depan stasiun kereta api "Kota", di wilayah kota tua Jakarta. Semenjak diresmikan sebagai musium dua tahun lalu, ratusan orang pengunjung tiap minggunya kini dapat melihat keindahan bekas gedung De Javasche Bank -- milik pemerintah kolonial Belanda.

Konservasi yang berlangsung lebih dari dua tahun itu, membuat gedung itu mirip bangunan asli di tahun 1935. Atas jerih payah Han Awal dan timnya, hasil konservasi itu pun diperjuangkan untuk menjadi nominasi di ajang UNESCO Asia Pacific Heritage Award 2008.

Padahal, sebelum "dipugar", gedung yang dibangun tahun 1828 ini, sempat terancam rusak. Ini terjadi karena bangunan ini pernah digunakan BI sebagai "operasional bank" sejak tahun 1957. "Makanya ada banyak tambahan penyekat di sana-sini.Tapi begitu ditetapkan sebagai musium, maka penyekat itu kita hilangkan," jelas Gede Aryana, penanggungjawab pengelolaan Museum Bank Indonesia, kepada saya, di kantornya.

***

TENTU saja, upaya ini membutuhkan tenaga ahli di bidangnya. Bank Indonesia, sebagai pemilik gedung, lantas menghubungi Han Awal,  arsitek senior itu. Dia dikenal berpengalaman melakukan konservasi Gedung Arsip Nasional, di Jalan Hayamwuruk, Jakarta.

Seperti diketahui, konservasi gedung arsip yang dulunya adalah milik pejabat VOC, dianggap sebagai karya monumental. Dan dunia internasional, akhirnya mengakui upaya konservasi terhadap gedung itu. Ini terbukti setelah badan PBB UNESCO memberikan penghargaan atas jerih payah Han Awal dan timnya, tahun 2001.

Ingin mengetahui bagaimana Han Awal melakukan konservasi terhadap gedung musium BI, saya kemudian berkunjung ke rumahnya yang asri, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada bulan lalu. Walaupun rambutnya sudah memutih, dan berjalan agak pelan, pikirannya masih tajam ketika bicara masalah arsitektur atau konservasi bangunan tua.

Pada awal pembicaraan, Han yang bersuara lembut mengungkapkan betapa bernilainya sebuah upaya konservasi. "Saat melakukan aktivitas dalam dunia bangunan tua," kata Han, "itu seperti berhubungan dengan masa lalu. Nah, masa lalu itu biasanya kita anggap mati".

Tapi menurut Han, dalam dunia konservasi, "masa lalu itu justru sangat menghidupkan. Ini saya kira romantika konservasi, yang saya rasakan sangat, sangat memperkaya diri, terutama emosional dan jiwa. Dan itu adalah kebudayaan."

Saya terkesima mendengar penjelasan lelaki kelahiran kota Malang, Jawa Timur ini. Itulah sebabnya, ketika Bank Indonesia memberi kepercayaan dirinya untuk mengkonservasi gedung BI di kawasan kota itu, Han merasa "terpanggil jiwanya".

Dengan gelora hati yang tinggi, Han beserta timnya kemudian memulai proses "pemugaran" gedung tersebut. Dimulai tahun 2000, upaya konservasi yang memakan waktu lebih dari 2 tahun ini, ternyata membutuhkan persyaratan yang tidak gampang.

***
UNTUK mengetahui apa "syarat-syarat" yang harus dilalui, saya minta diantar Gede Aryana, melihat langsung contoh hasil konservasi di gedung berlantai dua itu. Berjalan melalui lorong-lorong bangunan yang bertiang-tiang itu, (yang saya bayangkan seperti menziarahi masa lalu dengan khidmat), kami lantas berdiri di salah-satu sudut ruangan.

Kusaksikan dengan agak tercengang, Aryana lantas menunjuk talang air dari tembaga, yang menempel di salah-satu sudut bangunan. "Kita sepuh kembali tembaga itu, yang dulunya dicat berulang-ulang. Nah, dalam konservasi ini, kita kembalikan dalam bentuk aslinya. Kita kerik kembali seperti aslinya, yang rata-rata menggunakan tangan," jelas Aryana, panjang-lebar.

Di bagian ruangan lain gedung itu, Aryana tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia berjongkok, seraya tangannya menyentuh ubin warna merah marun.

"Ini sebuah ubin yang mirip dengan di tahun 1935, baik warna, bahan, atau bentuk, "jelas Aryana. "Cuma karena dibuat baru, maka diberi tanda, untuk membedakan dengan ubin yang asli."

Kuperhatikan dengan teliti, ubin "palsu" itu diberi tanda titik, berupa lubang berdiameter kurang dari setengah sentimeter. Bila tidak dilihat secara teliti, tentu orang tidak akan bisa membedakan antara ubin asli dan bukan. Namun itu tadi, kata Han Awal, barang pengganti yang tidak asli itu harus diungkapkan kepada pengunjung musium, seperti yang menjadi kaidah konservasi.

Dan untuk mendapatkan bahan ubin seperti yang asli, tentu saja tidaklah gampang. Han beserta stafnya harus keliling sampai ujung timur Pulau Jawa. Untuk mendapatkan bahan logam untuk pegangan pintu, misalnya, mereka harus mendatangkan ahli logam dari pelosok desa. "Kita mesti membuat penggantinya dengan bahan-bahan lokal, lalu mengkopinya sehingga betul-betul hampir tidak kelihatan bedanya," paparnya.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana Han Awal dan timnya bisa membuktikan bentuk asli ornamen gedung itu? Salah-satu cara, demikian Han Awal, "Atas dasar survei foto-foto lama. Dari sanalah, kita kembalikan seperti keadaan aslinya."

***

MASIH takjub atas proses konservasi gedung ini, di dalam gedung itu saya kembali dikejutkan sesuatu. Adalah sebuah tiang beton, yang sepertinya menjadi titik pertemuan dua bangunan berbeda. Di tengah tiang itu, kulihat ada kolom seukuran sekitar 3 sentimeter -- memanjang dari atas ke bawah dan dicat berbeda.

"Tanda seperti ini menunjukan bangunan ini tidak dibuat secara bersamaan," kata Aryana, bersemangat. Menurutnya, tanda ini dibuat secara sengaja oleh pihak konservator, yang dulunya tak terlihat, "agar pengunjung yang tertarik arsitektur dapat memahaminya," lanjutnya.

Gede Aryana lantas mengajak saya melihat sebuah ruangan, yang disebut sebagai "karya agung" (masterpiece). Namanya "ruangan hijau", tempat ruangan kerja presiden bank saat dibawah pemerintahan kolonial Belanda. Dinding ruangan itu ditutupi marmer hijau, lengkap dengan kaca patri dari Belanda. "Sekarang kita tengah melengkapi koleksi barang-barang, yang dulu ada di ruangan ini. Termasuk lukisan ratu dan raja Belanda, yang dihilangkan saat Jepang datang," tutur Aryana.

Dan bicara soal dinding gedung ini, Han Awal mengungkapkan salah-satu cara mengkonservasi sebagian besar dinding bangunan itu. "Kita hati-hati sekali memberlakukan konservasi gedung ini, sesuai dengan kedaaan teknologi pada jaman itu," kata Han, membuka pembicaraan. "Semen saat itu sedikit atau jarang dipakai. Pelesterannya itu memakai campuran pasir dengan kapur. Kemudian dicat dengan kapur."

Dengan menggunakan teknologi seperti itu, lanjut Han, bangunan itu secara natural bisa bernafas. "Kalau hujan, dinding itu bisa menyerap, dan kalau ada matahari dapat mengering sendiri," kata Han.

Sayangnya, dalam perjalanannya, para pemilik gedung mengecat ulang dinding itu dengan bahan cat yang berbeda, utamanya yang berbahan akrilik. "Lambat laun itu terdesak oleh cat-cat yang modern, sehingga cat akrilik itu menutup pori-pori. Akibatnya air tanah bisa ke atas."

Itulah sebabnya, dalam konservasi yang dilakukannya, Han mengupas semua lapis-lapis cat moderen yang ada pada dinding itu. Selanjutnya, dia mengecat ulang dengan cat yang bisa membuat dinding itu bernafas.

***

SAAT saya berkunjung ke musium Bank Indonesia, terlihat pengunjung dari sebuah sekolah dasar. Mereka tengah mengikuti pemutaran filem tentang pengertian bank serta fungsi uang, di sebuah ruangan dari gedung itu. Pikiran lantas saya mengembara, memikirkan bagaimana nasib bangunan bersejarah ini, apabila tak ada orang seperti Han Awal.

Namun kupikir juga, kini Han boleh bernafas lega. Bangunan musium BI -- yang termasuk cagar budaya yang harus dilindungi dari kerusakan itu -- telah berdiri elegan: seperti wujud asli saat dipugar tahun 1930-an lalu. Bahkan atas hasil konservasinya itu, pihak-pihak terkait mendaftarkan Museum BI untuk diperjuangkan menjadi nominasi di ajang UNESCO Asia Pacific Heritage Award 2008.

Penghargaan serupa pernah diraih Indonesia, dengan obyek konservasi Gedung Arsip Nasional, yang juga tak terlepas dari andil Han Awal, tahun 2001 lalu. Tetapi kepada saya Han Awal mengaku tak terlalu memikirkan penghargaan itu. Dia justru mengkhawatirkan bagaimana perawatan Museum Bank Indonesia ke depan.

"Yang saya kuatirkan dan membuat saya was-was," kata Han Awal, "adanya pemasangan AC, aliran kabel listrik di gedung itu."

Menurutnya, jika terpaksa tidak ada jalan lain, teknologi baru bisa dipasang, namun harus "diperlihatkan". "Pipa-pipa listrik itu misalnya harus diperlihatkan dengan jelas, tapi dengan warna yang membuat kesan ruangan tetap utuh, tidak terganggu," tegas Han.

Namun bukan Han Awal bila dia akhirnya cuma berdiam diri. "Kita memang perlu terlibat terus-menerus dalam pemeliharaan gedung itu. Memang pekerjaan saya sudah selesai, tapi saya selalu datang jika diminta datang untuk melihat. Dan bila mereka meminta advis, saya dengan senang hati melakukan itu," kata Han, tegas. Saya terharu mendengar kalimat ini, walau akhirnya tetap khawatir, memikirkan apakah nanti akan lahir "Han Awal" lainnya, setelah belajar dari kasus pengrusakan situs bersejarah Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. ***

 


Blog EntryAnda setuju, rumah Bung Karno dibangun kembali?Nov 12, '08 4:09 AM
for everyone

TAHUKAH Anda di manakah lokasi saat Bung Karno -- didampingi Bung Hatta di sebelah kirinya -- membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, di sebuah pagi, tanggal 17 Agustus 1945?

Tidak semua orang tahu, begitulah kenyataannya. Kondisi seperti inilah yang membuat prihatin sejumlah veteran, orang-orang yang terlibat dalam peristiwa penting itu, serta para saksi mata.

Sehingga, sebagian dari mereka berencana membangun kembali rumah tempat teks proklamasi itu dibacakan, yang kini telah rata dengan tanah. Sejumlah sejarawan, pemerhati sejarah dan disokong pihak permuseuman Jakarta, terus mengkampanyekan agar proyek rekonstruksi rumah proklamasi ini, dihidupkan kembali.

Tetapi mengapa sebagian arkeolog mempertanyakan proyek ini?

***

DI SEBUAH siang, pada bulan September lalu, saya mendatangi lokasi yang disebut-sebut bekas rumah milik Bung Karno. Saya memang tengah menyiapkan liputan tentang rencana pembangunan bekas rumah bersejarah itu. Seraya melangkah kaki ke arah tempat tersebut, saya membayangkan bagaimana bentuk rumahnya -- dalam ingatanku, gambaran yang selalu terlintas adalah, saat dua orang proklamator itu berdiri di teras depan rumah, yang beratap canopy terbuat dari kain bergaris-garis (seperti yang acap ditunjukkan foto usang karya fotografer IPPHOS...).

"Saya tidak tahu, di mana letak bekas rumah itu," kata seorang lelaki berkacamata, saat kutanya secara iseng. Percakapan ini terjadi di taman tugu Proklamasi, di Jalan Proklamasi, tak jauh dari bioskop Megaria atau Stasiun Cikini, Jakarta Pusat. Di dalam areal itu, sekitar 15 meter di sebelah kiri saya, berdiri patung Sukarno-Hatta, sementara di belakang ada tugu peringatan 1 tahun proklamasi, yang berukuran kecil. Adapun Gedung Pola (yang di tahun 60-an, disiapkan Sukarno sebagai tempat menggodok perencanaan pembangunan Indonesia ke depan).

Informasi di mana persisnya letak rumah itu, sebelumnya sudah kudapatkan, tetapi samar-samar. Ada yang mengatakan, rumah itu dulu berdiri di areal yang sekarang berdiri gedung POLA. Namun ada yang menyebut pula, letak persis teras rumah itu, kini dibangun tiang "halilintar". Saya siang itu akhirnya menemukan tiang beton yang lingkarannya berdiameter lebih dari 100 sentimeter, dan di atasnya terpasang logam berbentuk halilintar.

"Di sinilah dibatjakan proklamasi kemerdekaan Indonesia..." begitulah tulisan pada sebuah logam, yang ditempel di bagian bawah tiang tersebut.

***

SEMINAR rekonstruksi rumah Bung Karno, begitulah bunyi sebuah spanduk, yang dipasang di tembok depan Hotel Cemara, di kawasan Menteng, Jakpus. Digelar selama dua hari pada pertengahan Agustus lalu, acara ini dihadiri sejumlah pejabat dari kantor dinas Kebudayaan dan Permuseman DKI Jakarta, sejarawan, pemerhati sejarah, para veteran, serta seorang arkeolog.

Di sela-sela rehat makan siang, saya bertemu pemerhati sejarah yang juga wartawan senior, Alwi Shahab. Dia begitu bersemangat mendukung rencana pembangunan kembali rumah proklamasi itu. Menurutnya, sebagian besar generasi muda sekarang menganggap proklamasi kemerdekaan dibacakan di Istana Merdeka. "Sehingga rumah proklamasi yang sekarang menjadi gedung POLA itu, perlu dibangun kembali, karena tempat itu bersejarah," tegas Alwi.

Rencana ini sepertinya akan berjalan serius. Melalui seminar itu, sang tuan rumah, yaitu Kantor Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, akan membawa hasil seminar itu ke pemerintah pusat -- agar direalisasikan, dengan tentu saja sembari berharap dapat guyuran dana. Dan mudah ditebak, dalam diskusi hari pertama, semua peserta dan pembicara berduyun-duyun mendukung rencana pembangunan kembali rumah BK.

"Di rumah itu pula kabinet pertama RI bersidang beberapa hari setelah proklamasi kemerdekaan," tegas sejarahwan Universitas Padjadjaran, Bandung, Doktor Sobana Hardjasaputra.

Selain itu, Eddy Syafuan salah-seorang pembicara, yang juga pemerhati sejarah, mengatakan, mempelajari sejarah tidak cukup hanya melalui buku-buku sejarah. Warga masyarakat, menurutnya, perlu juga tahu di mana persisnya peristiwa sejarah itu terjadi.

"Kalau peristiwa proklamasi kemerdekaan, hampir semua tahu itu. Tapi anak-anak itu juga ingin tahu, seperti apa ya rumah BK seperti di foto-foto itu," tegas Eddy, bersemangat.

"Jangan sampai orang datang ke sana, dan berfikir bahwa BK membaca teks proklamasi itu persis di bawah patung proklamator... Itu salah kaprah!"

***

DARI seminar terungkap pula, kenapa Bung Karno membongkar rumah tersebut, pada tahun 1962 -- namun sepertinya tidak ada keterangan tunggal. Seorang peserta mengatakan, rumah itu dihancurkan, karena presiden pertama ingin memindahkan semangat proklamasi kemerdekaan ke Monumen Nasional (Monas). Sementara Eddy Syafuan mengatakan, rencana pembongkaran itu sempat dipertanyakan oleh Gubernur Jakarta saat itu, Henk Ngantung.

"Dan, ada lagi sentilan yang mengatakan, BK membongkar (rumah) atas desakan itu. Nah, di dalam salah-satu statement Henk Ngantung, dia mengatakan (anggapan) itu tidak benar. Malah seolah-olah (dia) mengatakan BK seolah-olah merestui (pembongkaran rumah tersebut)," jelas Eddy.

Alkisah, pada tahun 1962, tiba-tiba Sukarno memutuskan akan membongkar rumahnya, yang terletak di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. "Berita itu," demikian menurut makalah yang dibuat oleh Komite Pembangunan Rumah Proklamasi, "muncul secara ekstrim di berbagai koran ibu kota." Henk Ngantung, pejabat Gubernur DKI Jakarta saat itu, dilaporkan merasa prihatin terhadap rencana itu. Dia lantas menemui Presiden, membujuk agar membatalkan rencana itu.

Namun bujukan itu tak kuasa meluruhkan hati Sukarno. "Apakah kamu juga termasuk mereka yang ingin memamerkan celana kolorku," jawab Bung Karno di hadapan Henk Ngantung, seperti dikutip Alwi Shahab. Dan tanpa alasan yang jelas, menurut makalah itu, dan kini masih merupakan misteri, pembongkaran jadi dilakukan -- yang kemudian disesalkan sebagian orang di kemudian hari.

Tapi usaha Henk Ngantung, tidaklah seluruhnya sia-sia. Presiden dilaporkan setuju di kemudian hari, rumah itu dapat dibangun kembali.

"Untuk keperluan itu, Gubernur Henk Ngantung menugaskan sejumlah stafnya untuk membuat maket, foto-foto, dan menyimpan sejumlah perabot rumah tangga agar dikemudian hari dapat dipergunakan secara semestinya," kata pemerhati sejarah, Rushdy Hoesein, yang pernah dilibatkan dalam proyek pembangunan kembali rumah itu, di masa Presiden Suharto berkuasa.

***

DI SELA-SELA seminar itu, saya beruntung bertemu Rushdy Hoesein, lelaki berambut perak, yang pernah dilibatkan dalam upaya merekonstruksi rumah Bung Karno (yang ditinggali sejak tahun 1942), dulu. Rupanya, ide seperti ini pernah diupayakan, sekian tahun silam, tetapi juga gagal. Siang itu, dia membawa sebuah salinan buku yang isinya berupa disain dua dimensi rumah itu, berikut foto-foto. Dengan bersemangat, Rusdhy bercerita betapa rumah itu bersejarah.

"(Rumah itu) tempat tinggal BK, lalu tempat proklamasi Ketiga, (tempat) perundingan dengan Belanda jaman (perdana Menteri) Syahrir sampai perundingan Linggarjati (1947). Dan tahun 1949, tempat persiapan pengakuan kedaulatan rakyat (oleh Belanda). Kemudian tahun 1957, ada musyawarah besar, di mana Bung Hatta tak lagi menjadi wapres, dan masyarakat meminta agar dwi tunggal terbentuk lagi."

Rushdy lantas bercerita, di masa Presiden Suharto berkuasa, pernah ada ide untuk membangun kembali rumah itu. Saat itu, katanya, ahli sejarah, toko masyarakat, serta saksi sejarah meminta agar Presiden Suharto membangun kembali rumah tersebut. "Pak Harto mengatakan, 'Yang mbongkar saja nggak setuju... Sudahlah kita akan mengenang beliau... Saya akan bangun patung proklamator yang gede'," ungkap Rushdy menirukan Pak Harto.

"Tapi orang 'kan menilai itu kan patungnya Pak Harto, meski sosok patungnya proklamator. Lagipula posisinya tak tepat, banyaklah koreksinya. Tapi, ya sudah, kita terima... Patungnya 'kan juga bagus," tambah Roesdy.

Disebutkan, tahun 2002, sejumlah veteran angkatan 45 pernah memunculkan kembali ide pembangunam rumah itu, dan tampaknya berlangsung serius. Melalui pembicaraan yang panjang, sampai tahun 2005, mereka sudah sampai pada satu titik, yaitu membangun kembali rumah itu sepersis mungkin dengan aslinya -- dan akan dijadikan musium proklamasi.

Bahkan saat itu sudah dibentuk Komite Pembangunan Rumah Proklamasi, yang disebutkan melibatkan kalangan profesional -- mulai arsitek yang berpengalaman dalam konservasi gedung bersejarah, serta sejarawan. Rushdy Hoesein, salah-seorang anggota komite itu, mengatakan, saat itu kerja panitia sangat serius, termasuk menggali pondasi bangunan tersebut, yang ternyata masih utuh.

Tetapi, proyek ini tidak berjalan. Dia menjelaskan, selain kendala dana dan masalah politik, penyebab lainnya adalah polemik tajam antara kalangan sejarawan dan arkeolog tentang cara merekonstruksi rumah itu. Rushdy kemudian menyebut nama seorang arkeolog senior, Profesor Mundardjito, yang disebutnya paling kritis mempertanyakan proyek itu.

Hari Kamis pada pertengahan September lalu, saya menemui Profesor Mundardjito di kediamannya, dan ternyata sikapnya tak berubah.

"Biarkan sisa fondasi bangunan yang ada, jangan didirikan bangunan di atasnya!" Tegas Mundardjito, yang dulu pernah berperan dalam pembangunan kembali Candi Borobudur. Dia mengusulkan, agar fondasi bekas bangunan itu digali dan diungkap, dan dikonservasi sedemikian rupa.

"Jadi, nanti biarlah orang mengerti seperti inilah denah bangunan yang tersisa apa-adanya. Namun masyarakat juga harus diberitahu, bahwa rumah ini dulu dibongkar, yang mungkin atas inisitaif Bung Karno sendiri," jelas Mundardjito.

Kalau ingin membangun rumah seperti aslinya, Mundardjito yang guru besar Universitas Indonesia, menyarankan begini, "Warga harus tetap diberitahu, bahwa ini bukan gedung aslinya, tapi kira-kira seperti inilah bentuknya," tandasnya.

Dan, menurutnya, bangunan tiruan ini jangan dibangun di atas fondasi aslinya. "Jangan dibangun di situ (fondasi yang lama), tapi di luar itu," kata Mundardjito, serius. Dia menambahkan, "Buat saja model (rumah)dalam bentuk miniatur, atau sebesar aslinya, itu silakan. Tapi tolong jangan di atas lokasi yang lama. Itu sangat ditentang arkoelog, karena itu tidak asli."

Keinginan Mundardjito ini bertentangan dengan niat orang-orang yang ingin mendirikan rumah baru di atas fondasi asli tersebut, seperti ditegaskan Eddy Safyuan, pemerhati sejarah.

Menurutnya, rumah baru lebih baik dibangun di atas fondasi bekas rumah yang lama. "Biarkan saja gedung POLA ada di belakang, jangan dibongkar, karena itu juga punya sejarah tersendiri," jelasnya, seraya menambahkan, gedung POLA adalah saksi bisu rencana Sukarno dalam melaksanakan kebijakan pembangunan semesta berencana.

Eddy menghormati alasan para arkeolog, yang berangkat dari segi disipilin ilmunya. Namun menurutnya, pembangunan rumah Sukarno adalah untuk kepentingan lebih luas. "Kenapa di negara besar seperti Amerika Seikat, bisa membangun kediaman presiden pertama George Washinton? Kenapa kita tidak ambil contoh baik seperti itu," katanya.

***

EDDY Safyuan dan para pendukung ide pembangunan kembali rumah itu, menganggap, yang penting rumah itu dibangun semirip mungkin dengan aslinya. Apalagi, mereka mengaku telah menemukan foto-foto, disain rumah itu sebelum dibongkar, serta saksi sejarah.

Tapi Mundardjito menganggap, syarat-syarat itu tidaklah cukup. Menurutnya, apabila ingin dibangun di atas fondasi yang lama, harus ada tembok yang tersisa, sehingga bisa diketahui bahan asli bangunan itu. "Namun semua ini tidak terpenuhi," katanya.

Lebih dari itu, menurut Mundardjito, jika proyek ini dipaksakan, bisa merusak keaslian situs asli fondasi itu. Dan cara berfikir seperti ini, tegas Mundardjito, bisa membahayakan kebenaran akademis yang relatif dan terus berkembang. Dia kemudian mengusulkan, agar dibangun maket berukuran kecil yang bisa ditinjau ulang. Maket ini menurutnya dapat diletakkan di dekat fondasi asli, berikut memberi latar belakang sejarah bangunan tersebut.

"Lay out itu bisa direkonstruksi, agar nanti ada sejarawan lain bisa menilai ulang, 'oh bukan begitu, tugunya bukan di situ'. Nah, ganti lagi, taruh di sini... Jadi, ini sebagai rekonstruksi yang akademik sifatnya, yang boleh diganti sesuai pemikiran orang-orang yang punya data baru. Ini namanya perkembangan pemikiran orang-orang, yang tidak terus jadi berhenti," jelas Mundardjito. Dia khawatir apabila gedung baru dibangun di fondasi yang lama, orang-orang dipaksa untuk berhenti berfikir.

***

TIDAK adanya titik temu diantara kedua pihak ini, sayangnya tidak tampak dalam seminar rekonstruksi rumah Bung Karno itu. Pembicara dan peserta seminar justru mengamini agar pembangunan itu jangan ditunda lagi. Mereka lantas usul, jika rumah baru itu berdiri, dijadikan musium seputar peristiwa proklamasi kemerdekaan.

Para peserta seminar kemudian menyatakan, akan berupaya sekuat tenaga untuk meyakinkan pemerintah pusat agar segera mengeluarkan dana, supaya proyek pembangunan kembali Rumah Bung Karno bisa segera terealisasi, dan sama-sekali tidak memasukkan keberatan para arkeolog. ***


Blog EntryTiba-tiba aku teringat mendiang Munir...Oct 15, '08 11:40 PM
for everyone

TIBA-TIBA aku teringat mendiang Munir, ketika mobilku melaju kencang di atas tol Bintaro, pertengahan bulan Ramadhan lalu. Rasa kehilangan itu tiba-tiba menguasai tubuh, menggantikan panorama indah biru langit Jakarta sore itu...

Adalah istriku yang membuka "pintu kesedihan" tersebut. Di atas mobil, dia bertanya: siapa penceramah pada buka bersama di komplek tempat kami tinggal, Sabtu kemarin? (Kami baru saja pindah rumah, dan setelah sekian tahun, inilah pertama kalinya aku duduk tenang, mendengarkan sebuah khotbah...).

Aku pun membuka pembicaraan. Kujelaskan, pengkhotbah itu adalah Wakil Rektor Universitas Islam Negeri Hidayatullah. Dan, "ceramahnya bagus ya, nggak menggurui.."

Istriku mengiyakan, dan entah kenapa kemudian tiba-tiba aku berkata lirih seraya mataku mulai berkaca-kaca, "ah, aku jadi ingat Munir.."

Pikiran ini muncul seketika, dan suasana di dalam mobil itu pun menjadi haru. Musik Cranberries -- ode to my family -- yang mengalun dari tape mobilku, semakin menggenapkan suasana miris itu, dan berubah menjadi mirip musik kematian. Kami sempat terdiam beberapa detik -- rupanya perasaan yang sama juga muncul di benak istriku. (Anakku yang duduk di belakang juga diam seribu bahasa).

Wajah tirus Munir, rambut yang kemerahan, tubuh yang ringkih, kemudian membayang sekelebat. Kemudian, kepingan-kepingan memori seperti berputar kembali. Dan muncullah potongan percakapan -- yang samar-samar kuingat -- antara diriku dengan mendiang, sekian tahun silam, sebelum racun itu membunuhnya...

"Kita ikut berdosa, kalau hadir dan mendengarkan khotbah (Jumat) yang isinya cuma menghujat, mengajak bermusuhan..." Kalimat ini dia utarakan, setengah berkelakar, kepada segelintir wartawan, yang biasa ngepos di Kantor YLBHI, Jakarta. (Saat itu, dia dipercaya memimpin LSM itu). Aku ada di sana saat itu. Saya tidak menimpali kalimatnya, tetapi kalimat itulah yang masih kuingat sampai sekarang.

Sebuah mesjid kecil tidak jauh dari kami berdiri kami, memang tengah menyuarakan suara pengkhotbah melalui pengeras suara. "Ayo Fan sholat," ajaknya seraya tertawa. Walau aku agak malas, kami akhirnya menuju mesjid itu, tetapi di saat-saat ketika khotbah itu segera berakhir.

***

SAYA mengetahui sosok Munir, jauh sebelum dia dikenal sebagai pegiat HAM yang dikenal vokal dan berani. ("Saya juga pernah merasa ketakutan, Fan," ujarnya setelah mendirikan organisasi Kontras, tahun 1998). Saya dan Munir berasal dari tempat kuliah yang sama, di kota Malang, Jawa Timur, walau beda fakultas. Saat itu dia aktif di organisasi ekstra serta intra kampus, sementara aku sejak awal terbenam di dunia pers mahasiswa.Tapi saya tak pernah mengenalnya, dan kita jarang bertemu saat itu. "Kupikir kau dulu juga dari Fakultas Hukum," tanya mendiang kepadaku,  beberapa bulan sebelum dia hendak terbang ke Belanda.

Namun nama Munir mulai kudengar setelah dia bergelut sebagai pegiat aktivis LBH Surabaya dalam menangani kasus Marsinah, aktivis buruh yang dibunuh tahun 1993. Saat itu aku masih berstatus mahasiswa, dan kasus Marsinah menjadi santapan kami dalam diskusi-diskusi, yang terkadang melibatkan pula pegiat LBH di kota Malang...

***

DUA tahun sebelum Suharto jatuh, aku menjadi wartawan harian lokal di Denpasar, Bali. Hanya tiga bulan di kota itu, aku kemudian ditugaskan ke Jakarta, awal 1997 -- dengan spesialisasi liputan di dunia LSM, pengadilan, serta Partai Golkar. Pada tahun inilah, seingatku, aku berkenalan dengan Munir, yang kala itu dipromosikan bertugas di YLBHI Jakarta.

Dan Munir bukanlah tipikal pegiat yang menjaga jarak dengan media. Dengan segala keterbatasan, dia mau berbagi informasi, walau tidak untuk ditulis. Bersama sejumlah wartawan yang biasa meliput di LBH, saya bisa seenaknya nyelonong masuk ke ruangan kerjanya, untuk sekedar berkelakar, atau menanyakan latar sebuah kasus.

"Ayo masuk ke ruangan, aku punya informasi penting nih..." Di dalam ruangan kerjanya, di sala-satu pojok gedung YLBHI di Jalan Diponegoro, kami pun saling berbagi informasi. Seingatku aku saat itu lebih banyak mendengar, dalam percakapan yang sebagian besar dipenuhi seloroh itu. Munir memang bukanlah tipe serius..

Dan suhu politik yang memanas pada tahun-tahun itu, membuat jarak kami makin dekat. Peristiwa penculikan aktivis politik, pengungkapan kerusuhan Mei '98, disusul pendirian lembaga Kontras, adalah peristiwa-peristiwa yang membuat saya acap bersua "si rambut merah" -- julukan bernada seloroh yang ditahbiskan kepadanya, selain panggilan akrab "Cak Munir"...

***

SEKALI waktu, aku mewawancarai Munir, tetapi bukan dalam kapasitas dia sebagai pengamat, yang menganalisa sesuatu dengan jarak yang jauh. Pertengahan tahun 2001, aku tengah menyiapkan program seri radio tentang dampak serangan 11 September terhadap komunitas keturunan Arab di Indonesia. Munir kuwawancarai sebagai salah-seorang keturunan Arab yang memilih aktivitas LSM sebagai profesinya.

Yang menarik dari jawabannya, tatkala dia kutanya tentang sikapnya tentang isu pembauran. "Sikap sebagian keturunan Arab yang menikah dengan sesama keturunan Arab, itu cerminan feodalisme, kalau didasari karena kesucian darah," katanya tegas. Seperti diketahui, istri Munir, Suci (juga pegiat LBH di divisi perburuhan), yang dikenalnya saat aktif di LBH Surabaya, bukanlah keturunan Arab.

***

PESAN pendek itu masuk ke telepon selulerku, pada sebuah siang, bulan September 2004. Saya setengah kaget, syok, tidak percaya kematian itu begitu cepat menjemputnya. Saya kontak orang-orang terdekatnya, dan semua membenarkan berita kematian Munir, yang diiringi kesedihan, berikut nada amarah di baliknya.

Saya masih ingat, Susilo Bambang Yudoyono (saat itu masih calon presiden) di depan wartawan di Hotel Mandarin menghentikan sebentar diskusinya, dan mengucapkan bela sungkawa. Teman sekantorku tak kuasa menahan tangis," Cak Munir sudah tiada," dan bertanya-tanya apa penyebab kematiannya. Adakah dia dibunuh? Siapa yang tega melakukan ini semua? Mengapa?

Deretan pertanyaan seperti ini diutarakan orang-orang yang paham atas resiko profesi yang menjadi pilihan Munir. ("Saya sudah terbiasa hidup dalam ancaman,  ya, dijalani saja," katanya suatu saat, dengan tetap tersenyum. Dia saat itu masih mengendarai sepeda motor, dari rumahnya di kawasan Cipinang ke kantornya di Jalan Diponegoro).

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, seperti diketahui, baru terjawab sekian tahun kemudian. Tetapi bagiku, rasa kehilangan itu belum juga beranjak, empat tahun setelah peristiwa itu. "Rasa kehilangan itu tiba-tiba menguasai tubuh, menggantikan panorama indah biru langit Jakarta sore itu..." ***


Blog EntryBertemu Karl Marx di Highgate...Jun 8, '08 5:35 AM
for everyone

KETIKA ideologi komunisme dan sosialisme dikatakan bangkrut, lantas apa yang mendasari kedatanganku ke kuburan Karl Marx, lelaki yang identik dengan ideologi itu?

"Untuk memenuhi rasa ingin tahu, itu saja...," kataku setengah tertawa, menjawab pertanyaan rekan di London, yang merasa heran atas kunjunganku itu, di bulan Maret lalu. Tapi, pikiranku kemudian bertanya-tanya kenapa sampai muncul pertanyaan seperti itu, dan mengapa aku tertarik mendatanginya...

***
TIDAKLAH sulit menemukan kuburan Marx di kota London -- "Tidak sesulit memahami ajaran filsafatnya,"seloroh seorang teman. Letaknya di sebuah pekuburan berusia tua di atas bukit, bernama Highgate, di kota London bagian utara. Lokasinya berdempetan dengan sebuah taman indah dan luas bernama Waterloo Park... 

Saya memperoleh informasi tentang kuburan "kakek berjenggot" itu dari internet -- semula saya tahu dia tinggal lama di London (selain kota Paris), namun tak paham di mana dia dikuburkan. "Dari pusat kota London, naik saja tube (kereta bawah tanah) zone Northern Line, dan turunlah di stasiun Archway," begitulah tulisan di sebuah website tersebut. "Dari stasiun itu, Anda menghadap ke arah kiri, dan berjalanlah pada jalan mendaki, namanya Highgate High Street"...

Keinginan mendatangi makam Marx sudah lama kuidamkan, namun selalu tertunda. Itulah sebabnya, kedatanganku ke London pada bulan Maret lalu, kuniatkan betul untuk melihat langsung peristirahatan terakhir salah-seorang berpengaruh di dunia itu. 

Akhirnya kesempatan itu tiba. Di sebuah siang yang mendung, 15 Maret lalu, berbekal tulisan di website itu (berikut peta tube kereta bawah tanah, tentu saja), aku akhirnya  mendatangi tempat tersebut. Dari stasiun Queensway, aku turun di Tottenham Court Road, dan pindah kereta arah Northen Line, serta turun di stasiun Archway.

Di Jalan Highgate High  Street, aku temui sejumlah tanda seperti yang ditulis website itu: jalan yang menanjak, sebuah pub dengan bangunan aneh Whittington Stone Pub, serta sebuah patung kucing di dalam terali besi -- aku tak paham makna patung ini. 

Di sepanjang jalan ini berderet bangunan yang disebutkan dulu dihuni para kelas buruh, kelompok masyarakat yang 'diperjuangkan' Marx. "Anda harus menaiki jalan yang menanjak itu sampai Gereja St Joseph, yang stupanya beraksitektur neo gothic, yang berhadapan dengan pub The Old Crown," kubuka copy-an website, yang menjelaskan rute menuju pemakaman Highgate. 

Sampailah aku pada sebuah perempatan itu. Udara dingin tetap setia menyergap, tapi tak kuhiraukan. Gereja dan pub itu persis di depan mata, dan di sisi lainnya adalah taman Waterloo. "Ambil sisi kiri, dan masuklah ke dalam taman Waterlow. Di ujung taman itu, di pintu bagian barat, kau akan mendapati kuburan itu," tulis penulis website itu.

Melewati taman yang teduh itu, dan sunyi, aku akhirnya menemukan pintu di sisi barat. Di depannya ada sebuah jalan nan sepi (namanya Swains Lane), dan satu mobil kuno diparkir. "Di mana kuburan Karl Marx," tanyaku pada seseorang, setengah bersemangat. Tanpa kesulitan, lelaki itu menunjuk sebuah komplek pemakaman, yang kemudian kuketahui sebagai "makam Highgate bagian timur" (east cemeteries). Di depannya, memang berdiri pula "pekuburan Highgate bagian barat" (west cemeteries). 

***
PEMAKAMAN Highgate bagian barat dibangun lebih awal yaitu tahun 1839, sementara bagian timur dibangun belakangan, tahun 1854.  Aku pun melangkah ke sisi kiri, ke bagian timur pekuburan itu -- karena di sanalah lelaki yang identik dengan faham komunis itu dikuburkan.

Dan di balik pagar setinggi lebih dari 1 meter, berdiri sebuah pos warna merah jambu, dan seorang lelaki berjaket yang rajin tersenyum.

"Silakan masuk, kuburan Karl Marx tak jauh dari sini," katanya ramah, seraya meminta aku membeli tiket senilai 3 pounds. Dia menawarkan stafnya sebagai pengantar, tapi kutolak halus...

Aku pun melangkah masuk, dan hamparan kuburan yang sebagian nisannya bersalib, segera menyapu mataku --  aku tidak sepenuhnya kaget, karena pemandangan seperti ini sudah terekam di otakku, setelah berulang kali melihat filem horor ala Hollywood.

Pepohonan oak yang gundul, bunga liar yang tumbuh di sudut-sudut, serta jalan yang basah, ikut menyemarakkan rasa ingin tahuku atas kuburan itu. Ada beberapa orang -- sepertinya turis -- punya tujuan yang sama seperti aku...  

Tentu saja, selain kuburan yang bernisan salib (yang sebagian dihiasi figur malaikat bersayap), ada pula makam milik orang Yahudi, Protestan atau Anglikan, serta barangkali atheis -- saya sendiri tak melihat makam milik orang Muslim. Semua ini bisa kukenali dari bentuk nisan serta tulisan di atasnya. Lantas, seperti apa simbol makam penganut Marxisme, atheis, atau agnostik?  

Walaupun saya tak begitu yakin, saya menganggap nisan mereka biasanya berbentuk kotak dan ada kalimat seperti "kamerad" atau "buruh" -- ini setidaknya yang kulihat pada beberapa nisan yang letaknya di sekitar makam Karl Marx, misalnya bekas aktivis atau politisi Partai Komunis Inggris atau negara lain. Di sana juga tak terdapat simbol-sombol agama...

Dan akhirnya dari jarak lebih dari sepuluh meter, kuburan lelaki keturunan Yahudi itu sudah bisa kukenali: sebuah tugu persegi panjang tampak berdiri kokoh, dan di atasnya dipasang patung Marx, lengkap dengan rambut dan berewoknya.

Di tugu warna kelabu itu, ada beberapa kalimat yang ditulis dengan warna emas, namun yang sempat kubaca adalah  "Workers of all Lands Unite". Sekuntum mawar merah diletakkan di salah-satu sudutnya -- saya sempat melihat sebuah keluarga juga meletakkan karangan bunga di sana.

Namun menurut sejumlah situs, nisan 'asli' Marx tidak seperti sekarang. Disebutkan, nisan asli Marx (yang pembangunannya dibiayai sahabatnya, Engels) hanyalah berbentuk nisan berbentuk kotak yang hampir rata dengan tanah -- sayangnya, saya baru tahu belakangan

Tapi semuanya berubah, ketika Partai Komunis Inggris, pada tahun 1956, mengubah nisannya -- dengan meletakkan patung kepala dan dada Karl Marx di sana. (Saya lantas teringat, bagaimana rezim Suharto mengubah kuburan Sukarno di Blitar, yang awalnya sederhana, kini berbentuk seperti sekarang...)     

***
ADA belasan orang yang kulihat berada tidak jauh dari nisan Karl Marx -- mereka sebagian sepertinya turis. Tetapi ada seorang lagi bertopi kelabu dan berbaju serba hitam, yang kuperhatikan membawa rangkaian bunga. Umurnya barangkali di atas 60 tahun. Tarikan wajahnya seperti dari kawasan Timur Tengah.

Dia rupanya juga memperhatikanku. "Kau dari mana?" suaranya serak, tidak begitu jelas terdengar.

Kujawab seraya tersenyum, saya dari Indonesia. "Indonesia? Bukankah Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia," tanyanya lagi, kali ini suaranya lebih jelas terdengar. 

Saya mengiyakan. Kuperhatikan dia hilir mudik tengah menabur bunga itu di atas sebuah makam -- "anak saya dikuburkan di sana," katanya agak malas. Saya tahu diri, dan tak kulanjutkan rasa ingin tahu itu.    

"Indonesia?" Tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu. "Bukankah Presidenmu sedang berada di Iran, bertemu Presiden Ahmadinejad?" Lelaki ini ternyata adalah kelahiran Iran, tetapi sudah lama tinggal di London. Saya tak menanyakan kenapa dia meninggalkan Iran, namun dia dengan nada suara agak tinggi, menunjukkan nada amarahnya terhadap Ahmadinejad.  

Saya mendengarkan dengan takzim celotehnya, tapi aku memilih tak menanggapi...

Mengetahui aku berlama-lama di depan patung Marx, dia menawarkan diri untuk memotretku. Saya tak menolak, tetapi aku kemudian berpikir: jangan-jangan dia juga menaruh hormat pada siapa di balik patung itu. Atau, adakah dia seorang anggota Partai Komunis Iran yang mengasingkan diri setelah Revolusi Islam, tahun 1979? 

Sebuah pertanyaan yang barangkali juga pernah banyak menghinggapi orang-orang Indonesia, ketika hantu Karl Marx dipikirkan sebagai sesuatu yang menakutkan... 

***
SAYA pernah hidup di dalam atmosfir politik yang "mengharamkan" Karl Marx (berikut pemikirannya),  dan orang-orang yang menjalankan pikiran-pikirannya dalam sebuah garis partai. Doktrin itu diciptakan terus-menerus (hingga sekarang), dan dipelihara, dengan menyebarkan ketakutan: ketika itu setiap tahun diputar sebuah filem tentang kekerasan tahun 1965  -- dan saya pun pada akhirnya tidak bisa mengelak dari trauma... 

Namun sejujurnya aku pernah tertarik untuk mendalami ideologi itu (setidaknya secara akademis), walaupun tak pernah tertarik mengenakan "jubah" organisasinya -- saya ingat, adalah kata "alienasi" adalah kata mujarab sebagai pintu pembuka masuk ke dalam ideologi itu. Sebuah proses pencarian, seperti halnya saya juga tertarik ide nasionalisme, sosialis demokrat, atau Islam -- kendati yang kusebut terakhir ini akhirnya lebih menetap karena "itulah agamaku".  

Sebagai pisau analisa, di tahun 80-an akhir, faham "kiri" itu "kutemukan" melalui momentum sejumlah kasus perampasan tanah rakyat oleh pemerintah -- ikut sekali demonstrasi, yang kuterjemahkan sebagai sebuah upaya perkenalan dengan sesuatu yang berbau "kiri". Tapi di sana kuakui ada juga romantisme -- rasanya gagah menyandang predikat kiri itu tadi.

Tapi tetap saja perkenalan itu tidak pernah utuh -- tidak pernah intens, bersifat mediokrat, dan akhirnya acap berhenti sebatas jargon atau diskusi di dalam sebuah ruangan tertutup. Bahkan, kadang-kadang semuanya berakhir pada kekonyolan -- misalnya, aku begitu bangga mengenakan kaos oblong bergambar Che Guevara dan begitu takut menyimpan buku karangan DN Aidit tentang "materialisme historis" (yang kutemukan di pasar loak), tapi akhirnya kubiarkan berdebu, kuselipkan ditumpukan buku paling bawah -- tak pernah kubaca... 

Barangkali ini dampak dari "trauma" itu tadi, dan mungkin juga lantaran faktor keterbatasan otakku. Tapi tak bisa kupungkiri, keragu-raguan itu sejak awal terlihat, karena dilatari perubahan politik global yang terjadi saat itu, juga ekses akibat bersentuhan dengan teks yang mengkritisi ajaran Marx sebagai ideologi. 

Siapa yang bisa menghindar ketika teks "ideologi telah mati" muncul, dan sebuah argumen (atau mode?) yang mengatakan "narasi besar telah berakhir", bergelombang menerpa pikiran yang masih muda itu. Lagipula, mau disemai di mana ide itu, di sebuah negara yang tidak memberi tempat sama-sekali pada ajaran-ajarannya..

Namun yang nyata berpengaruh adalah kondisi obyektif saat itu. Aku masih ingat, saat mencecap status mahasiswa baru (tahun 1987), dan di tengah trauma itu, tembok Berlin yang angkuh itu runtuh. Kemudian, seperti efek domino, negara-negara komunis --yang sistemnya tertutup, dan otoriter -- satu-per-satu  rontok, digulung perestroika, yang berujung terpecahnya Uni Soviet menjadi keping negara-negara kecil, dan meninggalkan ideologi "palu dan arit" -- seolah sebagai produk masa lalu yang usang.

Semua keping informasi itu akhirnya hilir-mudik di dalam hidupku saat itu. Semangat eklektik, akhirnya yang terlihat. Bergelut dengan teman-teman pers mahasiswa, dengan latar politik dan ideologi yang berbeda, ikut berperan pula membentuk kepingan itu tak pernah utuh. Tuntutan keseharian, serta akhirnya logika dunia industri serta akar-psikologi Islam, membuat pencarian itu akhirnya tak pernah rampung... 

Itulah yang terjadi pada akhirnya. Dan meskipun  kadar simpati terhadap yang "kiri" itu tak juga hilang,  toh akhirnya persoalan ideologi itu tak lagi kupandang menarik -- saat awal menjadi wartawan (1996), saya pernah tertarik ide-ide yang diusung Partai Rakyat Demokratik (PRD) di ujung kekuasaan Suharto, namun kecewa dengan realitas politik partainya. Logika jurnalistik yang kupahami akhirnya membentuk karakterku untuk selalu berdiri di perbatasan... 
  
***
KARL Marx disebutkan tinggal dan mati di kota London. Dia disebutkan pernah tinggal di wilayah Hampstead, dan menyelesaikan karya monumentalnya Das Kapital, di ruangan perpustakaan di British Musuem. Di sebut-sebut pula dia pernah menghabiskan waktunya di sebuah pub di Jalan Tottenham Court Road. Marx juga pernah tinggal di Dean Street, Soho, di pusat kota London. Tapi mungkin tidak banyak tahu, kalau pada akhirnya jasadnya dikubur di pemakaman Highgate....

Dibuka pada tahun 1839, pekuburan Highgate bagian barat semula diperuntukkan untuk kalangan berkelas. Di dalamnya bisa dijumpai aneka bentuk nisan, atau patung, serta bangunan kuburan yang bernilai tinggi. (Saat saya berada di depan komplek itu, ada 6 orang turis sedang antri masuk pekuburan itu).

Sementara, komplek kuburan Highgate bagian timur (yang dibangun tahun 1854), yang mayoritas 'dihuni' orang-orang biasa saja -- salah-seorang diantaranya adalah Karl Marx, seperti pekuburan kuno lainnya. Dua komplek ini dipisahkan sebuah jalan menanjak, bernama Swains Lane, yang pagi itu terlihat sepi. 

Walaupun begitu, disebutkan lebih banyak pengunjung mendatangi pekuburan Highgate bagian timur, karena kehadiran Karl Marx di sana. Itulah sebabnya, di pintu masuk pekuburan itu dipasang namanya serta gambarnya.  

Selain makam Marx, disebutkan ada orang-orang terkenal lainnya dikubur di pemakaman itu. Diantaranya yang saya kenal, adalah novelis George Elliot (nama samaran Mary Ann Evans), filosof Inggris Herbert Spencer, serta ahli fisika Faraday. Sayangnya, karena keterbatasan waktu, saya tak sempat melihat makam mereka -- kecuali secara tidak sengaja, saya menemukan makam bekas pemain sepakbola tim nasional Skotlandia: Joseph Robert Stewart... 

(Dari sebuah situs disebutkan, ada 850 orang dikuburkan di pekuburan Highgate di sisi timur dan barat. Dari angka itu, 18 orang adalah akademisi, 6 orang walikota London, serta orang-orang seperti kusebutkan di atas).

Sejak tahun 1975, pekuburan Highgate bagian barat, tidak lagi dijadikan pemakaman umum, namun bagian timur sejauh ini tetap dijadikan pemakaman umum. Kini komplek pemakaman itu dikelola sebuah organisasi nirlaba bernama The Friends of Highgate Cemetery (FOHC). Didanai oleh masyaraklat, mereka bertanggungjawab untuk merawat, dan memperbaiki apabila ada situs makam yang rusak. Mereka dibentuk para relawan yang peduli terhadap peninggalan sejarah kota London ini.

Di luar semua itu, bagi pecinta flora dan fauna, di dalam komplek pekuburan itu terdapat lebih dari seratus spesies bunga liar dan pepohonan -- seperti hornbea, exotic limes, oak, hazil, sweet chestnut, tulip dan field maple.

Barangkali karena situs bersejarah itu sudah terbilang tua, maka di sana juga terdapat 50 spesies burung dan 18 jenis kupu-kupu, serta 3 spesies laba-laba yang konon sekarang sulit dijumpai di tanah Inggris. Disebutkan pula rubah gampang dijumpai di sana...  

 


Blog EntryKliping sepakbola, kegilaan itu... May 27, '08 11:23 PM
for everyone

KEGILAAN terhadap sesuatu yang berbau sepakbola itu tidak berangsur hilang, walaupun usia terus digerus waktu. Dan sekarang, tanda-tanda kerasukan itu kembali kurasakan, dua pekan menjelang pembukaan kejuaraan sepakbola antar negara-negara Eropa, awal Juni nanti.

Wujud kegilaan itu bisa macam-macam, tetapi salah-satu diantaranya adalah mengumpulkan dan menempel guntingan berita dan foto kejuaraan itu dari koran atau majalah -- mengkliping, begitulah nama lainnya. Sebuah kegiatan yang kusebut menyerupai hobi kegiatan seni, yang  sulit kuenyahkan tatkala memasuki momen seperti kejuaraan Eropa itu atau peristiwa akbar Piala Dunia...

Kadar kegilaan itu sekarang memang tidak seperti dulu, yang begitu menggebu. Kini saya tampaknya lebih realistis, lantaran kesibukan dan ada kehidupan lain yang lebih penting. Apalagi, sekarang ada kemudahan untuk mengakses internet (yang menyediakan data lengkap), serta banyak tersedianya media cetak yang memuat kejuaraan sepakbola itu.

Tapi kalau dikatakan hasrat hobi itu kemudian hilang, tentu saja tidak. Pada bulan lalu, misalnya, sebuah majalah sepakbola yang memuat persiapan kejuaraan itu sudah ada di tangan. Berita-berita seputar perhelatan sepakbola terbesar setelah Piala Dunia itu, juga kubaca habis setiap harinya. Namun apa penyebab kenapa kegilaan itu tak juga sirna?

***
SAYA tahu persis, kapan kegilaan berbau seni ini mulai menjangkitiku. Kejadiannya sudah berlangsung sekitar 30 tahun silam, tepatnya tahun 1978, ketika aku duduk di bangku klas 4 sekolah dasar -- saat aku mulai menyukai cabang olahraga tersebut. Kala itu, aku masih ingat, sebagian anak-anak di tempat tinggalku di kawasan Kauman, Malang, dihipnotis seorang lelaki gondrong yang mengenakan kostim garis biru-putih, dan ahli menggiring bola, serta mencetak gol. (Semula saya tidak tahu persis warna kostimnya, karena saat itu televisi di rumahku dan milik warga di sekitar rumahku masih hitam-putih).

Dialah bintang sepakbola Argentina, Mario Kempes, yang akhirnya ditahbiskan sebagai pemain terbaik dan pencetak gol pada kejuaraan Piala Dunia 1978, di Argentina. Dan mirip dengan yang terjadi pada pesepakbola zaman sekarang seperti David Bechkam atau Cristiano Ronaldo, atau Kaka, yang dikagumi anak-anak muda, Kempes saat itu pun dijadikan idola -- kendatipun, saya dulu begitu asing dengan nama Kempes, dan selalu heran "kok ada nama orang Kempes, seperti ban kempes saja...".

Itulah sebabnya, saya dan kakak lelaki pun memiliki kaos bergaris-garis (dibelikan ibuku), tetapi dengan garis hijau-putih, mirip yang dikenakan Kempes.

Saat-saat itulah waktu bermainku habis untuk bermain sepakbola di alun-alun kota Malang, di depan Masjid Jami, sampai akhirnya seorang temanku di klas 5, bernama Happy Andrean (yang juga menggilai bermain sepakbola) memberiku beberapa lembar gambar pemain sepakbola-- seingatku digunting dari majalah olahraga Olimpik atau Prestasi (aku lupa persisnya, tetapi dua majalah itu yang kuingat acap mengulas sepakbola dunia).

"Ini untuk kamu, Fan," begitu kurang-lebih kalimat Happy yang diucapkannya di tahun 1979. Perawakan Happy tinggi besar, paras dan fisiknya mirip legenda pesepakbola Belanda, Johan Cruyff. Dia juga sempat bersamaku ikut kursus sepakbola di Klub Gajayana, Malang. Dan aku ingat, guntingan majalah itu adalah foto berwarna gelandang tim belanda Johan Neeskens (terakhir sempat menjadi asisten Frank Rijkaard, saat melatih klub Barcelona) tengah dibuntuti Mario Kempes. Satu lagi seingatku adalah foto diri Kempes usai mencetak gol di final piala dunia 1978 -- sebuah foto yang kemudian jadi ikon dan acap dicetak ulang, sampai sekarang.     

*** 

SEKALI waktu, awal tahun 2000, kumpulan guntingan berita dan gambar seputar Piala Dunia 1998 (yang belum kutempel), diguyur air hujan, setelah atap kamar kos-ku di wilayah Manggarai Jakarta Selatan, bocor. Dengan perasaan agak sedih, kukumpulkan lagi kertas-kertas koran itu, dan kukeringkan di depan kamar. Teman-teman kos, juga pak kos, merasa heran melihat tingkahku, dan tertawa. Tapi itulah yang kulakukan, hingga kertas-kertas itu akhirnya berbentuk bundel kliping dengan judul 'Piala Dunia 1998 di Perancis'.

Bila seorang teman bertanya 'manfaat apa yang kau peroleh dengan kegiatan ini', aku biasanya seraya tertawa menjawab: kebahagiaan itu terasa saat proses mengumpulkan, menggunting dan menempel bahan-bahan itu -- yang dalam banyak hal membutuhkan waktu yang tidak sedikit, dan proses penyelesaiannya tidak langsung tuntas. Rasa senang itu kemudian timbul lagi, ketika di lain waktu, membaca ulang kliping itu -- kini terkadang  ada godaan untuk melengkapi kliping itu dengan data-data atau gambar yang kudapatkan belakangan. 

(Saya jadi ingat, dulu acap menunggu di sebuah toko buku dekat rumah, dengan harapan dapat lembaran Tabloid BOLA yang kualitas cetakannya jelek dan dijadikan bungkus koran lainnya. Kejadian ini terjadi tahun 1986. Lembaran-lembaran tabloid itu, yang biasanya tidak lagi rapi, kurawat ulang, kugunting dengan perlahan dan kutempel).

Dan kliping Piala Dunia 1986 di Meksiko, memang paling fenomenal, karena kukerjakan sampai 'berdarah-darah'. Kusebut demikian, karena tidaklah gampang mendapatkan guntingan koran yang tidak bisa kudapatkan dengan gratis. Maklum, saat itu keluargaku tak berlangganan surat kabar. Jadilah aku memanfaatkan uang saku untuk membeli koran atau tabloid Bola.

Dilatari fakta keterbatasan akses ekonomi seperti itu, aku pun begitu   gembira, ketika menemukan sebuah gambar pada koran bekas, yang dipakai ibuku sebagai pola jahitan. Aku ingat, gambar itu adalah pertandingan final Piala Eropa 1980, antara tim Jerbar lawan Belgia. Bernd Schuster (kini pelatih Real Madrid), gelandang fenomenal itu meloncat dengan Horts Hrubesch (ujung tombak Jerbar, dan pemain Hamburg SV) yang memenangkan pertandingan itu. Saya rawat gambar itu, dan kutempel dengan hati-hati -- walau ada bekas coretan pinsil pola di atasnya. 

Lainnya adalah Kliping Piala Dunia 1990, yang walaupun menggunakan kertas folio bekas, aku merasa puas. Semua data pertandingan mulai babak awal sampai final, kuperoleh semua, kecuali ada satu atau dua pertandingan yang gagal kudapatkan data berita serta gambarnya -- belakangan,  data dan gambarnya kudapatkan di internet, dan kuselipkan di dalamnya. Di sinilah rasa puas itu muncul. 

Perasaan puas itu juga menyeruak ketika kubaca ulang kisah-kisah di dalam kliping itu -- seraya membayangkan, bagaimana saya harus berjibaku mendapatkan data-datanya.

Di dalam kliping Piala Dunia 1986, misalnya, saya selalu teringat bagaimana wartawan Kompas Budiarto Shambazy menggambarkan suasana pertandingan antara tim Jerman Barat lawan Uruguay (di babak awal, dengan skor akhir 1-1) di sebuah kota di Meksiko. Shambazy, aku masih ingat, menggambarkan terik matahari yang memanggang para pemain-pemain Jerbar. "Panasnya mirip di Tanjung Priok pada siang hari, "tulisnya.

Atau, pada guntingan koran tentang Piala Dunia 1994, kutemukan nama Anton Alifandi -- sekarang menjadi kawan akrabku, dan rekan satu kantor -- yang disebut sebagai kontributor sebuah koran terbitan Jawa Timur dengan tiras tertinggi di Indonesia, di kota London. Tentu saja, di luar semua itu, aku bisa mendapatkan kembali data seputar kejuaraan itu, yang memuat berita detil, yang terkadang akhirnya dilupakan sejarah -- misalnya, saya sebut salah-satunya, faktor penyebab seorang pemain dicoret dari tim inti..      

Adapun Piala Eropa, aku memulainya saat Piala Eropa 1984 digelar di Perancis. Ini bertepatan dengan munculnya Tabloid BOLA, yang dulu disisipkan di koran Kompas, setiap hari Jumat. Aku teringat, di Malang, Kompas baru datang siang hari, dan hari Jumat adalah hari yang kutunggu dengan berdebar-debar. Yang membuatku senang, gambar pada tabloid itu sudah berwarna dan cetakannya lebih jelas. Itulah sebabnya masih kusimpan foto tim Perancis lengkap, dengan pelatihnya Michel Hidalgo duduk di tengah diadit 23-nya pemainnya.

***

TENTU saja, semakin ke sini, pembuatan kliping itu kurasakan semakin ideal. Selain data dan gambarnya lebih lengkap, termasuk data pemain yang berlaga serta skor akhir, kumasukkan pula sumber guntingan koran berikut kapan terbitnya. Ini yang terlihat pada kliping Piala Dunia 1998 di Perancis, sepuluh tahun lalu, yang kukerjakan di sela-sela kesibukanku sebagai wartawan koran NUSA. (Memang proses pembuatannya tak langsung jadi, dan selalu ada waktu jedah yang bisa memakan waktu bulanan atau bahkan tahunan. Kliping Piala Dunia 1998 Perancis itu, misalnya, baru bisa kujilid awal tahun 2002, itu pun pertandingan finalnya belum kujilid sampai sekarang).   

Dilatari kendala waktu, akhirnya tidak semua tumpukan koran itu selesai dalam bentuk kliping. Sebagian diantaranya masih berupa guntingan koran atau majalah, dan lainnya masih berupa tumpukan koran (piala Eropa 1996 di Inggris) serta kliping dalam beberapa buku. Ada pula koleksi puluhan poster tim sepakbola tahun 80-an -- termasuk tim Italia saat juara dunia 1982 (kubeli dengan harga seratus rupiah saat itu). Bahan-bahan itu akhirnya kusimpan dalam kardus plastik, dan sebagian ikut kuboyong saat aku pindah ke Jakarta, tahun 1997.

Dalam berbagai kesempatan, kesadaran untuk mengkliping itu kuanggap terlambat, setelah momen piala dunia itu berahkir lama. Di sinilah, ada godaan untuk mengumpulkan kembali data-data Piala Dunia 1978 dan 1982 -- walaupun akhirnya tidaklah muda. Jadilah aku di tahun 1990-an, berburu majalah bekas di pasar loak di jalan Kelud, kota Malang, untuk mendapatkan gambar-gambar era Mario Kempes 1978 atau Paolo Rossi 1982. Dan terkadang aku beruntung, bahan-bahan itu masih kudapatkan -- saya begitu gembira saat menemukan gambar hitam-putih tim Spanyol pada Piala Dunia 1978, saat melawan Brazil... 


 
Sebagian koleksi gambar dan guntingan koran itu, akhirnya harus kutinggal di Kota Malang. Semuanya kumasukkan dalam kardus dan kuletakkan di bawah dipan. Di kala perasaan kegilaan itu muncul, saya biasanya bertanya pada diri-sendiri "apakah koleksiku itu bisa bertahan dari kehancuran akibat dimakan rayap atau kecoak ya.."

(Selain koleksi berita dan gambar dari koran, aku pun menyimpan puluhan poster sepakbola peroide tahun 80-an. Dulu, di tahun 80-an akhir, kamarku penuh dengan poster sepakbola. Kamar yang kutempati penuh dengan gambar tim Italia, Polandia, Jerbar, dengan bintang-bintangnya seperti Rossi, Zico, Junior, Rummeningge, atau Platini. Suatu saat teman kakak menginap di kamar itu, dan dia berkomentar "ini lapangan sepakbola atau kamar ya" Aku tertawa senang mendengarnya...)    

***

MELIHAT tumpukan koran berisi berita-berita dan foto pertandingan sepakbola itu, pada akhir pekan lalu, saya berpikir keras dengan sedikit frustasi: mau dikemanakan barang-barang itu, sementara aku tak punya waktu lagi untuk mengerjakannya. Berulangkali pertanyaan  itu muncul, saya akhirnya cuma bisa menyimpannya (lagi), sehingga tumpukan itu makin bertambah banyak.

Masalahnya kemudian, adalah terbatasnya ruangan, sementara aku tidak sebersit pun untuk membuang bahan-bahan itu. Terdiri dari berbagai tumpukan koran, tabloid yang sudah kupilah-pilah, bahan-bahan itu meliputi data Piala Dunia 2006, 2002, serta 1994.
Sementara, data-data tentang Piala Eropa (PE) adalah PE 1996 (kusimpan di rumah ibuku di Malang), PE 2000, dan 2004.

Belum menemukan solusi yang pasti, akhirnya semuanya kusimpan secara rapi dalam peti plastik -- satu momen kejuaraan biasanya membutuhkan satu peti, sehingga keseluruhannya memakan 5 peti. Tapi aktivitas menyimpan ini bukanlah perkara muda, ketika saya tidak hidup sendiri.

Biasanya yang kulakukan adalah "melibatkan" istri dan anakku, dengan mengatakan, "Ini adalah satu-satunya hobi Walid" (Walid adalah  panggilan akrabku yang dilafalkan anak dan istriku).

Suatu saat, pelibatan itu tampaknya berbuah: anakku meniru kesukaanku membuat kliping! Bedanya, anakku, Aida, suka menggunting dan menempel gambar-gambar tokoh kartun Jepang, Naruto. Saya pun dengan senang hati menyediakan lem, gunting serta buku gambar. "Kita nanti bisa membuat kliping sama-sama, pada sebuah meja yang besar ya," kataku berulang-ulang di hadapan anakku. Istriku lantas biasanya tersenyum. ***  


 


Blog EntryDiinterogasi Polisi London... May 20, '08 6:19 AM
for everyone

HARI itu, Minggu pagi, 23 Maret 2008. Sebagian Kota London diguyur salju tipis -- dari jendela kamarku, terlihat atap gereja ortodoks terlihat memutih. Ada rasa malas beranjak dari tempat tidur, apalagi malamnya aku terbangun beberapa kali, karena dingin yang menusuk -- walau pemanas ruangan sudah kutinggikan, tapi tetap dingin!

Tapi aku akhirnya memilih bangun segera. Hari itu aku masuk sore, sehingga ada luang waktu untuk menikmati jalan-jalan. Dan tatkala jarum jam menunjuk pukul 10 pagi, aku sudah di atas tube (kereta bawah) menuju stasiun Holborn -- kira-kira 20 menit dari stasiun dekat rumahku, Queensway. Tujuanku saat itu adalah British Museum (ini kunjungan kedua).

Setelah puas keliling sebagian museum, sekitar pukul 12.15 siang waktu setempat, aku meninggalkan tempat itu. Udara masih beku. Kugunakan syal dan topi, dan aku pun melangkah ke Jalan New Oxford, yang lokasinya tak jauh dari museum. Di sepanjang jalan itu sampai ujung Jalan Oxford, banyak berdiri toko yang menjual aneka sandang.

Saya rasanya tak juga bosan-bosan menapaki  trotoarnya, untuk sekedar cuci mata. Terasa lapar, aku makan siang pada sebuah restoran yang menjual masakan Cina (namanya Wok in Box) , dengan harga 5, 50 pound, tetapi rasanya kurang enak -- tidak habis, tinggal separoh.

Setelah sempat masuk toko buku dan masuk ke sebuah taman di kawasan Soho,  aku memilih balik ke arah Stasiun Holborn. Waktu menunjukkan pukul 13 siang. Dua jam lagi aku harus masuk kerja -- tidak jauh dari stasiun itu, berdiri kantorku, yang terletak di pertigaan Jalan Kingsway dan Jalan Aldwiych. 

Di dalam perjalanan itulah, aku mengeluarkan kembali kamera saku. Ini memang kegiatan yang mirip hobi ("seperti melukis," kataku dalam hati). Setidaknya hingga siang itu, aku sudah mengabadikan lebih dari 20 obyek. Kali ini yang kuambil gambarnya antara lain sejumlah bangunan, suasana keramaian dekat stasiun Totenham Court Road, beberapa mobil berwarna yang diparkir, orang lanjut usia yang menunggu di halte, serta dua orang polisi yang tengah bertugas -- yang terakhir ini, aku sebetulnya aku ragu untuk memotretnya, tapi toh kulakukan.   

Menjelang perempatan Jalan New Oxford Street dan Kingsway, aku memotret lagi sebuah kafe -- yang kuanggap unik eksteriornya. Dingin masih terasa menusuk. Tapi kondisi itu tak mematahkan semangat mengabadikan berbagai situs -- terakhir saat itu aku memotret tulisan Stasiun Holborn dan bus tingkat merah yang tengah berhenti...

Di sinilah, tiba-tiba muncul dua orang polisi berseragam warna hitam, dengan topi mirip helm -- khas polisi Inggris. Perawakan dua orang lelaki ini tinggi-besar. Rupanya, mereka adalah polisi yang kupotret beberapa menit  lalu.

"Maaf," kata salah-seorang polisi, membuka pembicaraan, "Kami mau minta informasi kepada Anda, terkait isu terorisme, dan kebetulan Anda yang kami jumpai..."

Saya tidak panik, karena kupikir tak ada yang salah pada diri saya, dan lagipula mereka begitu sopan.

"Mengapa Anda tadi memotret berbagai gedung, dan apa tujuannya?"

Saya jawab, kegiatan memotret itu lebih sebagai hobi. Kuperhatikan polisi kemudian mencatat jawabanku, dengan sebuah pensil. "Dan bangunan-bangunan di sini, menarik buat saya..."

Saya mencoba tersenyum ramah, setiap selesai menjawab pertanyaan, tapi mereka sepertinya serius.

"Anda berasal dari mana?"

Kujawab "Indonesia", seraya kukeluarkan paspor dari tas pinggangku. Polisi itu lantas membuka pasporku. Setiap halaman dibuka.

Disaksikan temannya, polisi itu juga menanyakan nama lengkap, termasuk nama keluarga. (Aku sempat khawatir perihal fam keluargaku "Alkaff", di mana kemudian aku berpikir ke belakang setelah kejadian 11 September 2001, teringat kisah warga negara Indonesia yang namanya ke-arab-an, sulit mendapatkan visa ke Amerika Serikat...).

Kuperhatikan secara seksama bagaimana paras dua orang polisi itu, juga kalimat yang mungkin muncul dari mulut mereka, setelah kusebut nama keluargaku...

Yang kudapat, justru angin dingin yang menusuk, membuat tangan dan kakiku bergerak-gerak. Saya tidak tahu apa yang ada di benak aparat polisi London itu, melihat gerak-gerik tubuhku.

"Kau kedinginan? Sudah pakai baju rangkap?"

Saya lega mendengar pertanyaan itu. Mereka justru bereaksi atas bahasa tubuhku, ketimbang latar belakang identitasku. Dengan cekatan, seraya menyungging senyum, kutunjukkan baju rangkap tigaku.

Dari beberapa pertanyaan, hanya satu pertanyaan yang tak bisa kujawab: nomor rumah tempatku menginap serta kode posnya. "Tak masalah," begitu polisi itu menjawab ketidaktahuanku. Tapi mereka tetap mencatat.

Ketika kukatakan aku berasal dari Indonesia, dan datang ke London dalam rangka kerja, seraya kusebutkan di mana tempatku bekerja, mereka bilang "kamu beruntung bisa kerja di sana."

Dan ditanya, kamu sedang apa di sini, Aku menjawab: jalan-jalan dan sekalian mau berangkat kerja. "Itu kantorku," kataku menunjuk bangunan di ujung jalan. Mereka mencatat lagi.

Tapi ketika pertanyaan menjurus umur, dan kujawab apa adanya, mereka sepertinya kurang percaya. "Apakah betul umurmu?"

Mata polisi sepertinya menyelidik, melihat sekujur tubuhku.

"Ya, umurku memang segitu," kataku agak masygul, dengan tetap memelihara senyum.

Dua orang polisi kemudian bercakap-cakap pelan. Aku tidak bisa mendengarnya. "Apakah betul ini umurmu?" Kali ini mereka memelototi tanggal kelahiran di dalam pasporku. Saya tidak kesal, namun pikiranku menebak-nebak, jangan-jangan polisi ini curiga pasporku palsu!

Seingatku, mereka bertanya perihal umur sampai tiga kali! Setelah pertanyaan ketiga, mereka pun bergantian memandangi sebagian kepalaku yang sudah ditumbuhi rambut warna keperakan. Polisi itu lalu saling lihat...

(Belakangan, aku mulai sadar kenapa polisi itu berulang-ulang menanyakan umurku. Dan aku menemukan jawabannya, setelah mendengar pengalaman temanku yang lama tinggal di London. Barangkali ini mirip seperti yang kualami. Suatu hari, temanku yang perawakannya kecil datang ke rumah sakit. Sang dokter terheran-heran saat temanku itu berkata umurnya sudah mendekati 40 tahun. Si dokter mengira dia masih berumur 20 tahunan..).

Terakhir, setelah puas bertanya, polisi itu berkata, "apakah Anda mau membawa copy catatan ini?"

Kujawab "ya".

Salinan kertas ukuran 10 sentimeter kali 15 sentimeter itu pun berpindah ke tanganku.

"Silakan melanjutkan perjalanan, terima kasih... Anda orang yang baik."

Aku lega mendengarnya. Kulipat segera kertas salinan itu. Kita lalu berpisah baik-baik. Tapi sebelumnya, aku iseng menawar untuk foto bersama...

(saya jadi ingat, di zaman mahasiswa, tahun 1993, pada sebuah acara pendidikan pers mahasiswa, saya sebagai panitia pernah melakukan hal yang sama: mengajak foto seorang petugas Babinsa yang ditugasi memantau aktivitas kami. Dan berbeda dengan polisi Inggris yang menolak ajakan itu, Babinsa yang mengenakan kemeja dinas warna hijau itu bersedia kami ajak foto bersama - foto itu kusimpan, dan aku selalu tertawa setiap melihatnya) .   

Seraya memasukkan lagi tangan pada saku jaket, aku lantas berjalan pelan menuju kantor. Ada perasaan kosong. Ada sedikit ketakutan, tapi ada pula pikiran lain yang menjawab rasa takut itu dengan kalimat "bukankah polisi itu tadi mengatakan kau lelaki yang baik".

Kurang dari sepuluh menit, aku sampai di kantor. Ada waktu setengah jam sebelum masuk kerja. Tapi perasaan kosong itu terus membuntuti. Di kantin kantor, aku pesan segelas kopi hangat, dan memilih duduk di depan televisi - ada pertandingan Liga Utama Inggris, Manchester United lawan Liverpool, dengan kedudukan 3-0. Saya coba pindahkan pikiran ke pertandingan itu, tapi toh kubuka lagi kertas salinan polisi itu, dengan sedikit gemetar.

Pada kertas salinan itu, kulihat ada beberapa catatan.  Di bagian atas, ada tulisan  Metropolitan Police Service. Dan di bawahnya, ada tulisan Family Name, First Name, Sex, Age, yang harus di isi. Kemudian ada beberapa lagi, yang tak kupahami: IC code (ditulis angka 4), SDE Code: 09.  Kemudian ada kolom yang sepertinya merujuk pada ciri khas tubuh, seperti berat badan.

Lantas, di bawahnya lagi ada beberapa kata yang harus diisi: alamat tempat tinggalku di London, dan apakah aku mengendarai sesuatu. Ada pula tulisan Stop and Account, yang mana polisi memberi tanda pada  kolom Presence in area...

Sementara pada baris di bawahnya, ada tulisan Search Grounds. Pada baris itu, polisi itu menulis dengan pensil:  *S.44 TERRORISM.. Disampingnya, ada tulisan lain .... (aku sulit membacanya) with camera.. Di bawahnya lagi, dia menulis lagi: * Photos of prominence and buildings...

Di baris ke enam,  waktu dan tanggal kejadian, berikut lokasinya. Ada lagi tulisan yang sepertinya kode. Di baris berikutnya, polisi itu memberi tanda pada kotak yang isinya "saya tidak ditahan, dan hanya ditanya serta diberhentikan sementara".

Juga disebutkan saya cuma "seorang diri". Akhirnya, di ujung kanan kertas itu tertera nama petugas polisi itu. Namanya Luke, berikut kode dia... ***
















































































Blog EntryPerjalanan ke London ituApr 14, '08 6:18 AM
for everyone

TITIK-TITIK kecil berwarna kuning itu makin terlihat menyala di lautan serba hitam, yang kulihat dari jendela pesawat.

Dan seiring pesawatku menukik turun perlahan, lamat-lamat ribuan titik tersebut berubah makin jelas sosoknya: cahaya lampu di cakrawala Jakarta, yang seolah menebarkan salam selamat datang.

Kemudian, lautan hitam yang sebagian riaknya dihiasi warna keperakan, akhirnya berganti menjadi daratan, yang memantulkan cahaya lampu itu tadi, di atasnya. Sensasi keindahan itu pun kurasakan.

Tapi, seperti dikatakan banyak orang, keindahan panorama itu hanyalah faktor kedua sebagai pelatuk rasa bahagiaku saat pesawat jelang mendarat. Yang utama, demikian kata orang-orang itu, adalah kegairahan jiwaku dalam menjalani apa yang disebut sebagai "konsep pulang".  

"Kita segera mendarat di Bandara Soekarno-Hatta… Hari Selasa, 1 April 2008, suhu di bawah berkisar antara 27 dan 31 derajat celcius...." Suara awak pesawat itu membuat rinduku makin tak tertahan, seiring jam tanganku menunjuk pukul 8 malam kurang 20 menit waktu Singapura, atau satu jam lebih cepat ketimbang Waktu Indonesia bagian Barat.

Saat-saat itulah perasaan aneh itu muncul, dan aku akhirnya bisa berujar lega, "saya akhirnya pulang..."

***

PERJALANAN pulang, seperti diutarakan para pengelana, hampir selalu tidak sedahsyat seperti di awal perjalanan. Tapi kali ini kasusku berbeda, tampaknya, saat kutinggalkan kota London, pada 31 Maret lalu, setelah kurang-lebih satu bulan tinggal dan merasakan dari dekat sosiologi kota yang acap bergerimis itu.

Sensasi "ingin cepat segera tiba di Jakarta", dan disesaki rasa rindu yang meluap, itulah yang membayangi perjalanan melelahkan hampir 22 jam dari London ke Jakarta.  

Akibat dibayangi atmosfir seperti itu, daya konsentrasiku tak sepenuhnya berjalan baik pagi itu, ketika kakiku masuk taksi, beberapa detik sebelum meninggalkan rumah penginapan milik kantorku, di kawasan Bayswater. Ditawari dicarikan taksi oleh pengelola penginapan (seorang perempuan setengah baya berambut kecoklatan, yang kusapa "Hello Wendy", kutolak secara halus -- mental tak suka merepotkan orang lain itu, rupanya sulit hilang, dan terkadang justru membuat aku repot sendiri).

Tapi aku akhirnya memilih mencari sendiri taksi itu. Celakanya, tak gampang menemukan taksi kosong di pagi yang mulai sibuk. Sedikit mengumpat, dengan jalan tergesa, akhirnya kudapatkan taksi kosong di seberang stasiun tube Queensway, selang beberapa menit, sementara waktu berjalan terus.

Dua kopor besar, satu tas punggung, serta sebuah tabung karton (berisi poster, yang kemudian tertinggal dan hilang di bandara Heathrow) pun menemaniku menuju Stasiun kereta Paddington -- sebelum melaju dengan kereta Heathrow Express menuju bandara. "Anda berasal dari mana? Hendak pulang ya?" sopir taksi itu mencoba membunuh pagi yang beku itu. Tapi pikiranku justru melayang-layang, mencoba merekonstruksi ulang perjalanan ini, satu bulan lalu...

***

DIHADAPKAN pada jarak budaya, iklim, dan barangkali bahasa, aku tiba di London, tanggal 2 Maret silam. Di bawah langit siang yang tak berwarna, di sepanjang perjalanan dari bandara ke penginapan milik kantorku, aku coba menyerap semua yang kulihat -- dan kuabadikan sebagian dengan kamera poketku, dengan alasan logis "sebuah gambar (potret) bisa mewakili seribu kata".

Tapi, tidak berhenti sampai di situ, aku juga berupaya selalu berfikir terbuka terhadap apa saja yang "dilahirkan" kota ini, dan menyerapnya -- walaupun awalnya agak sedikit syok! Mulai cara berpikir, sikap agnostik, sikap altruisme, gaya hidup urban, dan keragaman etnis, hingga masalah rasial. Semua keserap, dan kuenyahkan jauh-jauh keinginan untuk menilai, atau bersikap, atas segala yang terjadi di sana. Akhirnya, adalah "bagaimana menjalani hidup," begitu kata Albert Camus, sastrawan-filosof eksistensialis Perancis, "dan bukan lagi soal bagaimana berfikir."

Orang-orang yang tak paham bisa saja mengatakan: aku tak punya sikap. Namun itulah yang terjadi. Terkadang, menurutku tidak dibutuhkan sikap untuk menjalani sebuah kehidupan, di tengah kepungan informasi yang tidak sepenuhnya bisa kurengkuh untuk dipahami. Bukankah dengan tidak memilih itu juga sebuah sikap?  

Kusebut "aku tak punya sikap", kuambil contoh dari atmosfir kental yang mewarnai perjalanan ini, di mana isu terorisme, Islam dan barat, habis-habisan sungguh menyita dan menguras energi. Di bandara Heathrow, saat saya pertama kali menjejakkan kaki di London, pemandangan itu langsung menyergapku: setiap penumpang wajib melepas sepatu dan diperiksa ketat. Tapi toh aku melakoninya dengan sadar, tanpa ada pertanyaan.

Belum lagi pengalamanku berurusan dengan polisi London, dua pekan setelah tinggal di kota itu, gara-gara hobiku memotret. Segala identitasku dicatat -- toh, aku bisa menertawakan diri-sendiri dan polisi itu akhirnya berkata "anda lelaki baik, dan selamat jalan ya." 

Barangkali ini yang disebut sebagai perasaan skeptis, yang berujung apatis. Tidak mau tahu apa yang terjadi di sekeliling. Walaupun, saya sadar, informasi itu hampir selalu tersaji saban hari, sebagai konsekuen dari profesi yang kusandang. Ada memang perasaan gelisah, bertanya-tanya, lalu mungkin sedih dan amuk, tapi setelah itu, ya, sudah. Tidak ada lanjutannya, lupa, karena ada peristiwa lainnya yang muncul. Terus begitu, setiap hari, jam atau menit.

***

NAMUN toh hidup berjalan terus, dan kota London bukanlah semata-mata untuk "difikirkan", tapi juga "dinikmati" dan dijelajahi -- dengan rasa, tidak melulu dengan pikiran. Itulah sebabnya, sejak awal tiba di kota ini sampai detik-detik pesawatku meninggalkannya, semua yang kujumpai, kudengar, dan kurasakan, dengan segala daya yang ada, kunikmati sepenuhnya.

Di suatu pagi yang bersalju, misalnya, saya begitu syahdu saat lonceng gereja di belakang kamar yang kutinggali berdentang. Juga tatkala berjalan sendiri di Taman Kensington, masih di kawasan Bayswater, pada dingin yang menusuk, kubiarkan lamunan itu memenuhi otakku -- saya biasanya teringat sebuah kisah yang dirajut penyair Rabindranath Tagore yang melalui tokohnya "lebih memilih menjadi tukang kebun ketimbang politisi atau hartawan".

Atau, kubiarkan rasa melankoli itu berkibar-kibar, saat perasaan sepi itu menyelinap di antara deru kereta bawah tanah (tube, begitu disebut) dan hilir-mudik warga London yang berwajah pucat dan berjaket gelap. Atau, aku menangis tanpa air mata saat kakiku terkilir (dan bengkak), serta terserang demam di Birmingham, ketika tuntutan kerja ada di hadapan mata. Atau, aku tertawa gembira di saat menemukan restoran China yang menyajikan menu mie berkuah -- sebuah menu yang begitu nikmat disantap saat langit London berubah gelap. Atau, aku begitu syok saat seorang lelaki Inggris yang duduk di sampingku di atas pesawat menuju London secara tiba-tiba bertanya "apakah kau punya istri simpanan?". Atau, ketika aku terkagum-kagum saat masuk toko buku atau musium di kota ini yang begitu lengkap koleksinya...  

***

"WALID pulang!" Kalimat ini terlontar dari mulutnya yang mungil, saat aku dan istriku memarkir mobil di halaman rumah. Suara itu menyelinap dan memecah sisa-sisa rasa sepiku. Dan suara langkah kakinya semakin jelas terdengar, disusul suara anak kunci, dan sebuah wajah dari balik tirai. Kulihat rambutnya sudah lebat sepundak, tapi tawanya tidak berubah. Matanya tetap jernih.

Dan ketika pintu terbuka, kugendong dia. "Walid datang," ulangnya lagi. Kakinya lincah bergerak ke sana-kemari, seperti salah-tingkah. Mataku menjadi berkaca-kaca, dan aku pun ikut salah-tingkah. Rupanya benar kata istri temanku yang berkata "siap-siap saja kalau anakmu agak bersikap aneh saat kepulanganmu ini."

Dan sambil kuangkat barang-barang, tangannya terus berupaya menggelayut ke lenganku. Bola matanya yang coklat seperti berputar-putar melihatku dan pada tiga buah tas yang kubawa. Selang beberapa menit, seperti mudah ditebak, kalimat itu akhirnya keluar juga dari anakku, Aida, "Ayo, Lid, dimana oleh-oleh untuk Aida.." ***


Blog EntrySabtu malam besok, aku terbang ke Inggris... Feb 29, '08 11:28 AM
for everyone

PUNGGUNGKU terpampang di Tabloid olahraga BOLA! Ini serius, saya tidak berseloroh! Ha,ha,ha...Pada rubrik “Dari Redaksi” tabloid itu, ada foto seorang lelaki – yang cuma terlihat punggungnya – tengah mewawancarai lelaki lain di depannya. Nah, “foto seorang lelaki” itu adalah saya…


Kisahnya, pada malam itu, rekan sekantor, Sigit, menelepon. Suara baritonnya terdengar renyah, "Fan, sudah beli BOLA yang baru?"

Belum, kujawab. "Kalau begitu, beli segera ya.." Kenapa, kutanya lagi agak penasaran. Sigit pun akhirnya bercerita...

Rupanya, saat wawancara, fotografer tabloid itu mengabadikan peristiwa yang berlangsung hari Rabu lalu (20 Februari), di kantor BOLA. Saya, saat itu, tengah menginterviu salah-satu wartawan BOLA, Broto Happy, yang dikenal sebagai spesialis liputan bulutangkis – tempatku bekerja juga acap mengontaknya.


Broto kuhubungi, karena pada pekan ini, saya membuat laporan “di luar kebiasaan”. Kusebut demikian, karena jarang sekali aku bersentuhan dengan liputan olahraga bulutangkis. “Sekalian belajar,” begitu alasanku, tanpa basa-basi. (Ah, aku jadi ingat, wartawan itu acap disebut tipe “generalis”, karena tuntutan mengetahui berbagai hal (walau cuma sepenggal), sementara seorang ahli bidang tertentu biasa dianggap “spesialis..)


Jadi, apa salahnya, kucari orang yang kuanggap paham tentang bulutangkis, sekalian kujadikan tempat bertanya serta mewawancarainya…


Laporan ini akan diputar sehari sebelum pembukaan kejuaraan bulutangkis All England, pada awal Maret (4-9 Maret) nanti, di Kota Birmingham, Inggris. Sebelum bertemu Broto, saya dua kali kunjungi Pelatnas tim bulutangkis Indonesia di kawasan Cipayung, Jakarta Timur – di komplek pelatihan itu, saya menyaksikan foto-foto perjalanan tim pebulutangkis Indonesia yang melegenda, mulai Rudi Hartono sampai Susi Susanti, yang ditempel di ruangan. (Di sana pula, kulihat sosok legenda lainnya, Luis Pongoh, yang senyum "bayi"-nya tidak berubah seperti belasan tahun silam, saat dia masih memegang raket..)


Nah, pertanyaannya kemudian, kenapa saya diberi tugas buat laporan kesiapan tim bulutangkis Indonesia? Inilah yang ingin kuceritakan. Awal Maret nanti, saya dapat tugas meliput kejuaraan bulutangkis All England. Dan, kalau tak ada aral melintang, saya akan berangkat tanggal 1 Maret, pukul 23.00 Waktu Indonesia Barat, dengan maskapai Emirates


***


LEBIH dua pekan silam visa kunjunganku ke Inggris, akhirnya kelar – “silakan bapak ambil, barusan diantar dari kedutaan”, suara perempuan dari pesawat telepon begitu terdengar merdu, pagi itu. Dengan langkah kaki yang kurasakan enteng, siang itu juga kuambil paspor hijau itu (di lantai 22 gedung Abda, dekat British Council, Jalan Sudirman) – hujan gerimis yang jatuh dari langit Jakarta, akhirnya tak begitu kupedulikan.


Tanah Inggris, dalam bayanganku selama ini, memang seperti magnit – warna kelabu langitnya berikut gedung-gedung tuanya; bunyi “koak-koak” burung gagak di pelataran Tower of London; serta pohon-pohon oak yang daunnya rontok (berikut bentuk daunnya yang khas); serta sebuah hutan kecil di sebuah desa di wilayah Petersfield...


Ini memang bukan kunjunganku yang pertama.
Bila pesawatku kelak mendarat di Bandara Heathrow, awal Maret nanti, berarti ini adalah kunjunganku ketiga ke tanah Inggris – pertama kuinjakkan kaki di London, pada Desember 2002, dan kedua pada Februari 2004.


Itulah sebabnya atmosfir negara itu, utamanya kota London dan pinggirannya, rasanya sudah begitu kukenal – saya jadi teringat sebuah aroma yang selalu menyergap saat kakiku turun di Bandara Heathrow, tapi selalu sulit kujelaskan seperi apa bau-bauan itu…


Rencananya aku tinggal satu bulan di Inggris, sepekan di Birmingham (kira-kira 2 jam perjalanan dengan kereta api dari London, untuk meliput kejuaraan bulutangkis All England). Sisanya, saya membantu tim London.. sampai akhirnya kembali pada 31 Maret 2008.

***


"POKOKNYA, Walid balik dari London tanggal 3 Maret, karena itu ulang tahun teman Aida,” kalimat ini meluncur dari mulut anakku, satu bulan lalu. Anakku rupanya “tidak rela” ayahnya pergi jauh – entah apapun alasannya. Tapi, aku dan istri sepakat: mesti cerita apa adanya, bahwa Walid “mendapat tugas liputan bulutangkis ke Inggris dan tinggal selama satu bulan”.


Itulah sebabnya, saya sengaja bercerita ihwal rencana perjalanan itu jauh-jauh hari – dan, awalnya memang tidak mudah. Dan ini adalah ide istriku, “biar dia nggak kaget, dan sekalian biar dia memahami bagaimana kerjaan bapaknya.”

Kebiasaan ini akhirnya selalu kulakukan -- hampir pada setiap ada liputan, entah di luar kota atau pulau, atau luar negeri. Hasilnya memang terlihat, walaupun prosesnya tidak segampang yang dibayangkan.


Dan perjalananku ke Inggris kali ini, bukanlah dalam waktu singkat. Sebulan aku bakal meninggalkan anak dan istriku – ya, ampun siapa bisa menahan rasa kangen itu! (Sebelumnya belum pernah aku selama itu – paling-paling 3 minggu paling lama: saat ke Inggris tahun 2002, ke perbatasan Kalimantan Timur hingga ke Mataram tahun 2005 hampir 15 hari,  liputan rusuh Abepura di Papua selama 10 hari; serta liputan tsunami yang memakan lebih dari 2 pekan).


"Kalau Aida kangen Walid, kan bisa menelpon, atau kirim email ke Walid,” aku mencoba melanjutkan percakapan, Jumat malam, sehari jelang keberangkatanku. Ini terjadi di dalam mobil, di perjalanan pulang dari kantor. Istriku mengajaknya, untuk menjemputku – sekalian belanja apa yang harus kubawa besok. “Walid kalau kangen, juga pasti menelepon Aida...”


Semula dia mau menjawab pertanyaan itu, tapi dengan kalimat singkat “ya, Lid..” Namun dia bertanya lagi, dengan kalimat yang mulai tercekat.

Kok lama di Inggris, kok satu bulan?”

Kan setelah liputan bulutangkis, Walid ada tugas di kantor London,” kataku, dengan nada yang kubuat ramah.


Pertanyaan ini dia ulang-ulang, dan kucoba menghiburnya, bahwa satu bulan tidak akan terasa lama, asal “Aida beraktivitas seperti biasanya,” kata istriku, mencoba membuatnya nyaman. Upayaku untuk membujuknya, terus kulakukan saat kami sampai di rumah. Saya coba yakinkan sekali lagi bahwa “kita nanti akan ketemu lagi..” Tapi, senyumnya yang hilang itu membikin aku sedih... (saya lantas teringat perjalanan tugas ke Inggris tahun 2002, tanpa anak-istri, membuat perjalanan itu akhirnya tidak sepenuhnya nikmat..).



Blog EntryMajalah EPPO, nomor 39 Tahun 1979…Feb 24, '08 5:13 AM
for everyone

KALAU ada yang mengatakan, lebih gampang mengingat sebuah gambar ketimbang tulisan, ini bukanlah sekedar isapan jempol. Setidaknya begitulah pengalamanku, tatkala menemukan kembali majalah ‘cerita bergambar’ EPPO terbitan 1979,  majalah milikku yang kubaca pertama kali 28 tahun silam – saat saya bercelana pendek, murid sebuah sekolah dasar...  

 

Secara tak sengaja majalah itu kutemukan di dalam kotak plastik, yang kusimpan di gudang. Semula aku ingin melihat kembali foto-foto lama, koleksi kliping sepakbola dan sejumlah buku. Namun mataku lebih tertuju pada majalah itu, dan tergoda lebih lanjut untuk melihat kembali isinya…   

 

Jauh sebelum disimpan di gudang,  majalah berwarna ini tergeletak di sebuah lemari di rumah ibuku di Kota Malang (dulu, aku punya lebih dari 10 majalah itu). Dilatari semacam argumen “melihat masa lalu adalah sebuah kebutuhan”, maka majalah itu serta sebuah lagi majalah kanak-kanak milikku (yaitu ‘cerita bergambar’ terbitan Gramedia) kubawa ke Jakarta. Namun lantaran kendala tempat, akhirnya majalah itu kusimpan juga di gudang. 

 

Dan, ketika tanganku membuka lembar per lembar majalah itu, sosok-sosok tokoh yang sebagian kuimpikan dulu, muncul kembali. Memang tidak semua berujud kartun, ada beberapa cerita yang digambar secara realis. Nah, figur-figur seperti ‘Storm’ (lelaki tanpa baju yang berpetualang melawan kejahatan, dengan partnernya seorang perempuan yang dijuluki ‘rambut merah’, diletakkan pada halaman-halaman pertama majalah ini) itulah yang kisahnya mengharu-biru masa kanak-kanakku.       

 

Tapi, yang selalu membuatku selalu ingin tahu cerita lanjutan pada edisi berikutnya, adalah kisah fiksi berseri dengan latar sejarah Perang Dunia 2, berjudul ‘Partisan’. Melalui tokoh seorang mayor tentara asal Inggris bernama Dragon (saya dulu selalu terobsesi model rambutnya yang kuning, dan kumis tipis di wajahnya), cerita ini mengajak pembacanya mengarungi berbagai pertempuran seputar perang dunia itu.

 

Saya juga ‘jatuh cinta’ dengan kisah ini, karena goresan tinta pelukisnya – teliti, dan agak detil. Dan, karena begitu terbius  kisah ini, aku masih ingat, dulu aku dan teman-teman di kampung, “main perang-perangan” dengan senjata dari kayu yang model senjatanya kuambil dari kisah ini, selain filem perang di televisi berjudul ‘Combat’ dan ‘The Spy Force’…

 

Cerita bergambar lainnya, yang juga membuat imajinasiku meletup-letup saat itu, adalah kisah pemain sepakbola asal sebuah klub di Belanda – namanya Roel Dijkstra, pemain depan dengan rambut blonde mirip legenda sepakbola Belanda sesungguhnya, Johan Cruyff. Aku menyukai cerita ini, juga dilatari kesukaanku bermain sepakbola.. (saya ingat, ada kisah Roel akhirnya dikontrak sebuah klub Inggris, dimana diceritakan lelaki berambut pirang itu menghadapi konflik dan intrik)     

 

Tentu saja, cerita gambar dalam bentuk kartun di majalah itu, juga menjadi daya tarik – mulai detektif kocak Johnny Goodbye, Agen 327 dengan rekannya lelaki   berambut gondrong, hingga Leonardo ‘si pencipta’, serta profil EPPO sendiri (lelaki dengan kacamata tebal, dan rambut agak jabrik…)

 

Toko Buku Surya Buwana

DIBESARKAN dalam keluarga dengan ayah seorang guru, tentulah sulit secara ekonomi untuk berlangganan majalah EPPO – aku ingat, dibandingkan majalah BOBO, majalah ini lebih mahal (tahun 1979, harganya 300 rupiah). Saya akhirnya membaca majalah itu di sebuah toko buku, yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumah – namanya Surya Buwana. Di sanalah, pertama kali aku mengenal majalah itu.

 

Lantaran terbitnya bulanan (atau mingguan ya? Aku lupa), maka saya selalu penasaran setiap menjelang hari terbitnya. Pulang sekolah, di hari terbitnya, saya selalu nongkrong di depan toko buku itu. Biasanya majalah yang baru datang diletakkan di atas rak kaca, di bagian depan.

 

Di sanalah, terkadang berdiri dan sering jongkok, aku lahap isi majalah itu – bersama  seorang teman tetangga yang seumur, namanya Hidayat (dulu, kita acap bersaing, siapa paling cepat membaca majalah itu – ha,ha.. kalau ingat semua ini, dan bertemu kembali dengan Hidayat, kita cuma bisa tertawa sekarang…).

 

Untungnya, pengelola toko buku itu begitu sabar menghadapi kami. Walaupun terkadang mereka berkata “bacanya nanti ya, karena sedang banyak pembeli”, mereka membiarkan kami masuk ke bagian dalam, dan dibiarkan duduk dipojok sambil membaca.  Tapi, sebetulnya, bukan hanya EPPO yang kami baca, tentunya. Ada cerita bergambar yang kusebut pada awal tadi (terbitan Gramedia, tentang kisah-kisah terkenal di seluruh dunia) dan buku tentang penemuan dan petualangan – seingatku kala itu  aku tidak tertarik lagi dengan Majalah Bobo. (Kini ganti anakku yang berlangganan majalah dengan mascot bergambar kelinci itu).

 

Saya lupa, kapan persisnya tidak lagi membaca majalah EPPO. Namun yang jelas, sejak toko buku itu pindah ke tempat lain (yang jauh dari rumahku), praktis aku tak lagi membacanya. Ada perasaan kehilangan saat itu, karena saya masih dibuat penasaran beberapa cerita dalam majalah itu, yang tidak lagi kuikuti -- di toko itu pula, saya pertama kalinya menemukan Tabloid BOLA, yang saat itu, tahun 1984, disisipkan Surat Kabar KOMPAS…

 

Beberapa tahun kemudian, sebuah penerbitan menerbitkan kembali kisah-kisah dalam majalah itu --dalam sebuah majalah terbitan khusus. Tapi, seingatku, aku tidak lagi tertarik, mungkin karena usia yang bertambah dan minat bacaan yang berubah. Kini, 28 tahun kemudian, aku kembali membalik-balik majalah yang mulai kusam itu. Melalui gambar-gambar tokoh rekaan di dalamnya aku pun kemudian mengenang, memotret beberapa halamannya, dan kemudian majalah itu kusimpan lagi…     


Blog EntryMendiang ayahku dan majalah NGJan 31, '08 3:30 AM
for everyone

KENANGAN itu selalu terjaga setiap kubuka halaman-halaman majalah National Geographic (NG) yang berbingkai kuning, di mana melalui tulisan dan gambar-gambar di dalamnya, aku diajak berjalan ke masa silam, untuk sebuah perjumpaan yang tertunda -- dengan ayahku.

 

**

EDISI pertama bahasa Indonesia majalah itu kudapatkan di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, beberapa menit sebelum aku terbang ke Bali, untuk liputan Kongres PDI Perjuangan di Sanur -- akhir Maret 2005. Saat kukeluarkan uang dan kubayarkan kepada petugas kasir di toko buku berukuran sekitar 4 meter kali 5 meter itu, perasaanku begitu hidup: aku akhirnya mampu membeli majalah itu, dan baru! (Harga majalah ini memang relatif mahal untuk ukuran harga majalah di Indonesia -- 40 ribu rupiah, tapi aku mafhum karena sebanding dengan kualitas kertas yang sungguh luks, serta kualitas foto dan gaya tulisan  yang yahud pula).

Keluar dari ruangan toko buku, kutenteng majalah itu dengan hati-hati, menuju ruangan tunggu, sebelum dipanggil untuk masuk ke dalam pesawat. Ada perasaan aneh, mungkin lebih tepatnya bangga, saat tanganku menentengnya --  aku jadi  teringat perangai temanku di masa mahasiswa dulu, yang begitu bangga menggapit Majalah Time, saat melenggang di antara teman-temannya. Kekonyolan temanku itu tadi, kini kulakoni -- dengan sadar!

Itulah yang terjadi pada diriku, pada siang yang terang itu, apapun. Bagian depan majalah itu, yang laporan utamanya tentang penemuan fosil manusia purba di Pulau Flores, sengaja kuletakkan di bagian depan – agar orang-orang di bandara bisa ikut menikmatinya, tentunya.   

 

Perasaan aneh ini berlanjut saat aku merebahkan diri di kursi ruangan tunggu, sebelum dipanggil untuk masuk pesawat. Dalam waktu yang tersisa, kubuka halaman demi halaman majalah itu. Kuharap aku bisa membaca dari kata per kata -- dengan diselingi gerakan mataku melirik ke penjuru sudut ruangan, adakah calon penumpang membaca majalah yang sama.


Pikiranku kala itu memang tidak tunggal, kadang aku berusaha keras membaca satu artikel di majalah itu, tetapi di saat yang hampir bersamaan, perasaanku kubiarkan hanyut dalam jutaan  kata-kata yang tertera dalam majalah itu,  berikut makna yang timbul demikian, semenjak aku menemukannya di rak buku milik ayahku, lebih dari 20 tahun silam.

 

**   

 

TAK, tak, tak..,” suara seperti ini pernah  terdenyar nyaring, dari balik pintu kamarku. Suara itu keluar dari sebuah mesin ketik – aku lupa merek-nya. Melalui benda itulah, ayahku, menghabiskan waktunya di ruangan kerjanya yang selalu rapi dan  bersih (belakangan mesin ketik itu hilang, entah kemana, tapi aku masih ingat ayahku tidak  begitu memperlihatkan rasa kehilangan – walaupun, aku yakin, benda itu sangat penting buat dia yang gemar menulis) 

 

Ayahku, kelahiran tahun 1917, yang mendapat panggilan kesayangan “walid”,  adalah seorang guru Bahasa Inggris – dia mengajar secara privat, di mana murid-muridnya datang ke rumah. Sejak pensiun sebagai guru Bahasa Inggris bagi karyawan perusahaan minyak Stanvac, di Palembang, dia membuka les di salah-satu ruangan, yang letaknya di bagian depan rumah kami di kota Malang, Jawa Timur (ayah-ibu kami memboyong anak-anaknya, meninggalkan Palembang, tahun 1969, dan pindah ke Malang, Jawa Timur).

 

Di salah-satu ruangan rumah, seluas 3 meter kali 8 meter itulah,  ayahku menghidupi 5 orang anaknya – aku sendiri anak keempat.  Tapi, setelah beberapa tahun mendiami ruangan itu,  ayahku harus “rela” membagi ruangannya untuk dibagi, karena tuntutan ekonomi: separoh ruangan itu disewakan kepada orang lain, dengan dibatasi sehelai  triplek – saya ingat, jika ada kegaduhan di ruang sebelah, ayahku akan menggerakkan tangannya, mengetuk triplek pembatas itu (Belakangan, ruangan tersisa itu akhirnya harus dikontrakkan pula. Sebagai gantinya, ruangan untuk sholat, yang letaknya di sebelah kamar tidur anak-anak lelaki, disulap menjadi tempat  kerjanya). 

 

Setiap hari bertemu, dan setiap saat pula bisa bermain di ruangan kerjanya, membuat anak-anaknya akrab dengan benda-benda miliknya.  Itulah sebabnya, kami, anak-anaknya,  juga bisa tahu bagaimana dia begitu menyayangi, dan merawat secara teliti barang-barangnya – mulai buku filsafat, majalah berbahasa Inggris (juga majalah Tempo), perangko-perangko kuno (ada beberapa perangko bergambar Adolf Hitler, dicetak sebelum Perang Dunia kedua), kartu pos lama serta surat-surat pribadinya kepada para sahabat penanya di luar negeri (beberapa diantaranya adalah warga negara Turki, Inggris, dan Filipina).    

Rasa sayangnya itu dia tunjukkan dalam merawat buku dan majalah-majalah koleksinya -- dia akan menyampul sebagian bukunya bila perlu, dengan kertas warna coklat muda, bekas amplop berukuran besar. Dalam masanya, Walid juga membawa buku dan majalahnya ke percetakan, untuk dikemas ulang sampulnya – utamanya bila sudah mengelupas.

Di dalam lemari pribadinya, saya selalu melihat kapur barus. Itulah sebabnya, barang-barangnya, seperti buku atau kartu pos lama, selalu wangi. Kerapian memang identik dengannya --  hampir tanpa cacat! Tidak sampai di situ. Meja kerjanya juga selalu dibersihkan dengan lap basah, dan dibiarkan kering terlebih dulu, sebelum dia duduk rapi -- dan membuka-buka bukunya, atau mulai mengajar.

 

Ada satu buku yang gemar dia baca, dan kadang-kadang dilafalkan setengah keras. Aku lupa persisnya, tetapi itu catatannya tentang kata-kata mutiara atau kutipan orang kesohor tentang apa itu hidup -- semuanya dalam bahasa Inggris. Biasanya Walid tertawa kecil, saat kepergok membaca isi buku itu, dan baru kemudian menjelaskan apa makna tulisan itu.

Barangkali karena rajin menata ulang tempatnya, Walid jadi hafal di mana letak barang-barangnya -- karena itu, dia tahu dan sedikit protes, bila anak-anaknya mengutak-atik koleksinya, sehingga tidak lagi rapi seperti sedia kala.  “Siapa ini yang buka-buka buku, dan nggak ngembalikan dengan benar,” begitu kata-katanya yang kuhafal.

 

Salah-satu majalah kesayangannya adalah majalah berbingkai kuning itu tadi, National Geographic – yang dia letakkan di salah-satu sudut mejanya, dan ditumpuk nyaris rapi dan berurutan, sesuai waktu penerbitan.  Di masa kecilku, dia acap mengenalkan isi majalah berbahasa Inggris NG, yang dia beli dari sejumlah pasar loak di kota Malang.

 

 

Seingatku, di meja persegi itu ada beberapa terbitan majalah NG terbitan tahun 1950-an, serta edisi tahun-tahun setelahnya. Dan semakin tua usia majalah itu, ayahku meletakkannya pada sisi paling bawah. Kalau ditanya, apakah saya ingat semua isi NG milik ayahku, tentu tidak. Namun bila sekarang ini, saya melihat ulang tema yang sama, maka ingatan itu akan otomatis muncul lagi. “O, ya, aku pernah  membacanya,” kira-kira begitulah jawabanku kelak.

 

Yang kuingat sekarang ini, selintas, adalah kisah tentang sebuah kereta api diesel luks yang bisa membawa penumpangnya keliling Amerika, di tahun 50-an; ada pula kisah tentang sejarah Olimpiade kuno Yunani -- berikut gambar-gambarnya yang mencengangkan! Kisah-kisah dari sebuah negeri yang jauh,  pedalaman Afrika hingga ujung Kutub Utara, serta penelusuran  sejumlah negeri Arab yang eksotis, kisah sepenggal Afganistan (termasuk cover majalah bergambar gadis Afgan, yang belasan tahun kemudian dilacak NG dan berhasil), adalah tema-tema yang sempat kuingat. 

 

Pilihan ayahku membaca majalah itu, tentu juga didasari kesukaannya terhadap apa yang disebut sebagai ilmu geografi. “Kalau soal pengetahuan peta dunia, Walid dulu paling jago di sekolah. Walid hafal di luar kepala-kepala nama kota-kota di dunia..” katanya suatu saat.  Kusadari betul, cerita-cerita ayahku itu akhirnya membuat anak-anaknya, utamanya yang lelaki,  ikut jatuh cinta atas obyek yang menarik perhatiannya.

 

Saya dan kakak lelakiku, mulai tahun 70 dan 80-an, acap  membuka  majalah berbingkai kuning itu – biasanya lebih ingin tahu gambar-gambarnya. Terkadang tanpa sepengetahuan ayahku, saya menyelinap ke ruangan kerjanya,  dan  membuka-buka majalah itu dan menikmati  isinya. Sekarang aku sadar pula, bacaan tentang kisah-kisah itu membentuk watakku dalam memandang majalah itu… 

 

 

***


AGAK klise memang, tapi kupikir, majalah itu adalah contoh kongkrit sebuah karya jurnalistik yang baik. Pernah kubaca sebuah buku tentang teknis jurnalistik, dan di sana diberikan bagaimana  kisah wartawan NG mencari berita dan melaporkannya. Dari kisah itu, kusimpulkan bahwa untuk mengetahui keakuratan dan keseriusan kerja jurnalistik, maka NG adalah patut dijadikan contoh.

 

Bayangkan, seperti diakui penulisnya, mereka perlu turun ke lapangan selama sedikitnya 2 bulan, untuk menulis sebuah artikel yang cuma tidak lebih dari 3 halaman. Itu pun, setelah tulisan itu hendak memasuki proses cetak, si wartawan mengirim artikel setengah jadi itu kepada sumber beritanya -- untuk dicek ulang, apakah ada yang salah atau tidak.

***

SAAT aku pulang ke rumah ibuku di kota Malang, tahun 2005, masih kulihat puluhan majalah itu masih teronggok di lemari kayu, persisnya di rak bagian kiri  -- bayangan dan nafas Walid masih kurasakan dari lemari itu, yang barangkali salah-satunya barang peninggalan Walid, yang kini masih tersisa. Debu tipis menempel pada jari-jariku, saat kujamah majalah yang paling atas.

 

Tapi saat pulang pada Oktober 2007 lalu, semuanya tidak lagi kujumpai lagi.  Isi rak itu telah kosong! Ada perasaan nelangsa, saat peninggalan walid seperti perangko, majalah-majalah NG itu, tidak ada lagi di tempatnya -- walaupun bau wangi kapur barus masih tercium dari lemari itu...

 

Kuingin bertanya dikemanakan barang-barang itu, tapi kubatalkan.  (Saat Walid mulai pikun dan 'kehilangan' pekerjaannya sebagai guru privat, aku kadang-kadang berfikir bahwa karena itu Walid makin menderita. Begitu pula saat meja kerjanya dipindahkan. Awalnya, seingatku, ayahku itu masih memaksakan untuk tetap mengajar, walaupun sebagian muridnya makin berkurang. Tidak lama  kemudian dia terkena stroke awal tahun 2001, dan berujung kematiannya pada sebuah siang, 26 Januari 2002…)

***

 

KINI saya bisa membalik-balik majalah itu, dengan antusiasme yang bisa kukatakan mirip ayahku – walaupun tentu tidak serapi ayahku, tentu saja. (Walau aku terkadang dipaksa bertanya bila ada yang meminjam majalah itu, dan kemudian tidak berada kembali di tempatnya -- ha, ha, ha...). Dan setiap membuka halaman per halamannya, kurasakan semangat ayahku hadir bersamaku  – saya selalu pelan-pelan membuka per halaman, berusaha menikmati setiap kalimat atau paragraf yang ditorehkan para penulis kesohornya, serta mencermati karya jurnalistik foto dahsyat hasil jepretan fotografernya..

 

Dan setiap akhir bulan, kubuat diriku penasaran,  menunggu penerbitan edisi berikutnya. Ini terulang lagi saat saya bertugas ke luar kota, dua hari lalu. Usai meliput pemakaman mantan Presiden Suharto di Solo,  majalah edisi terakhir --yang tema laporan utamanya tentang peninggalan budaya Mesir kuno di Sudan -- kuburu dengan gelora tinggi di sebuah toko buku di kota Solo, Jawa Tengah, 29 Januari,  tiga hari setelah lima  tahun kematian ayahku…  (Jakarta, 31 Januari 2008) 

 


Blog EntryTsunami Aceh, dan foto-foto itu... Jan 23, '08 1:26 AM
for everyone

"KAU berada di Aceh 'kan, saat tsunami itu terjadi?" Kalimat ini dilontarkan seorang rekan, pada pekan lalu, di sela-sela liputan perawatan mantan Presiden Suharto -- dia bercerita pengalamannya.

 

Saya mengiyakan -- dengan menggerakkan dagu ke atas, dan ke bawah, tanpa mengeluarkan suara: nafas rasanya tercekat. Ada semacam keengganan mengingat kembali saat liputan tsunami Aceh, 4 tahun silam. Tapi, kupaksa mendengarkan celoteh temanku itu tadi, seraya terbayang kembali kejadian-kejadian saat itu... 

 

Saya, setelah liputan tsunami Aceh, selalu berusaha melawan "keengganan" itu, walaupun rasanya begitu sulit -- tapi kupaksa selalu. Caranya, aku mencoba siap menerima apapun, entah itu kisah-ulang, cerita, foto, atau apalah. Harapannya, tentu agar aku lebih bisa menerima kenyataan yang terjadi saat itu...

 

Dan, masih dalam kerangka keinginan itu, di bawah ini kusajikan lagi awal kisahku, yang kutulis 4 tahun silam, dua pekan setelah kejadian...

Sudah saatnya saya bisa berbagi pengalaman ini:

 

DIBANDINGKAN hari-hari awal setelah bencana, suasana Banda Aceh siang itu relatif berubah. Suasana hiruk-pikuk di Bandar Udara Iskandar Muda, yang terlihat ramai di minggu pertama, kini tidak seramai dulu. Pesawat-pesawat berukuran besar yang bertugas mengirim bantuan ke lokasi terpencil di pesisir barat, misalnya, saat itu tidak terlihat sibuk.

 

Saya kembali tiba di kota Banda yang hancur itu, setelah  sempat  tinggal tujuh hari di awal kejadian tsunami. Sebagian wilayah kota  Banda yang lolos dari terjangan tsunami, pekan itu juga jauh lebih hidup. Sejak  enam hari di kota ini, saya, misalnya  telah hampir tiap pagi minum kopi Aceh -- di sebuah warung tidak jauh dari pendopo, rumah dinas Gubernur Aceh. Nasi dengan gulai yang menurut selentingan dicampur dengan daun ganja juga sudah mengisi perutku.

 

Pasar-pasar yang menjual buah langsat, serta rambutan, sempat pula kudatangi. Wilayah yang luluh-lantak di dekat laut, seperti Pasar Malam Rex mulai terlihat  dibenahi. Puing-puing dan rerutuhan yang dulu menyerupai bukit, kini tidak lagi terlihat, meski bangkai kapal nelayan berukuran raksasa masih teronggok di depan Hotel Medan.

 

Mayat-mayat yang di awal-awal masih gampang dijumpai di jalanan, saat itu tidak terlihat -- kecuali di bawah puing-puing yang belum tersentuh.  Tapi yang tidak berubah adalah foto-foto itu, berikut keterangannya -- yang dicopy dan ditempel dalam lembaran kertas seukuran folio di beberapa  sudut kota. Mataku otomatis  akan tertuju pada gambar-gambar itu, karena dipasang di tempat yang begitu mencolok.

 

Di bandara, misalnya, kertas-kertas itu ditempel di tiang-tiang, di ruang  kedatangan bandara yang gampang terlihat. Walau kertasnya sudah terlihat lusuh dan sedikit terlipat di ujung-ujungnya, dan warna tintanya mulai buram, tetap membuat orang yang lewat di situ melihatnya.

 

Saya pun akhirnya merapat di depannya. Seolah gambar dalam foto-foto itu meminta  berbagi kerinduan akan hidup. Juga, mungkin harapan akan pertolongan saat ombak setinggi setinggi 6-7 meter mengedor pintu rumah mereka – pada pagi itu.

 

“Dicari Unzir, suami 24 tahun dan Sani, istri 20 tahun.” Pasangan ini tinggal di Dusun Tualang, di Kabupaten Aceh Timur. Aku tak tahu alamat ini, tapi menurut cerita teman-teman, lokasi ini adalah bagian yang hancur akibat tsunami.

 

Dalam foto itu Unzir dengan mata sayu tampak memeluk Sani, sementara sang istri yang duduk di depan tangannya merengkuh dan membelai pipi atas Unzir. Agaknya saat pemotretan, Sani agak malu-malu. Senyumnya dikulum. Sepertinya pemotretan dilakukan secara otomatis di studio boks.

 

Enam hari saya tinggal di Banda, kertas pengumuman lengkap dengan foto mencari keluarganya yang hilang, masih menempel di sudut-sudut kota, tapi ada yang mengatakan, kini sebagian keluarga korban -- satu bulan setelah kejadian, mulai bisa menerima kenyataan bahwa sebagian keluarga mereka memang telah mati.

 

Aku sendiri menyaksikan di sebuah lokasi pengungsian di wilayah Mata’i, di pinggiran  kota, tidak lagi terlihat pengumuman yang disiarkan dari corong suara: tentang orang-orang yang kehilangan keluarganya. Ini terjadi setelah 3-4 hari setelah kejadian. Kini suara-suara itu hilang.

 

Tetapi siapa yang bisa mengukur apakah orang-orang itu telah bisa menerima kenyataan tragedi itu? Seperti apa bentuk kongkrit bentuk penerimaannya? Lantas, bagaimana dengan foto-foto itu yang  dibiarkan menempel dan dilihat banyak orang, sehingga ingatan itu selalu terjaga?

 

Saat-saat pertanyaan itu muncul, aku bertemu seorang kawan lama, yang sama-sama asal kota Malang. Kita dulu bertetangga, dan sekarang dia jadi relawan sebagai tukang cerita atau pendongeng bagi anak-anak korban di wilayah pengungsian.

 

Saya bertemu dia di lokasi pengungsi di wilayah Mata’i, tepatnya di komplek sekolah calon Tantama milik TNI. “Saya sering menjumpai  anak yang masih trauma. Ketika saya sodori spidol dan kertas putih, mereka menggambar laut yang ganas dengan tsunaminya.” Begitu cerita teman saya itu.

 

Yuda Andi, nama teman saya di masa kecil itu, lantas menjelaskan model terapi yang dia terapkan. “Saya ajak mereka menggambar laut tapi dengan laut yang indah. Pantainya menakjubkan lengkap dengan matahari yang terbenam.”

 

Dia begitu yakin – karena, menurutnya, anak-anak itu harus menerima konsep takdir: bahwa Yang mencipta dunia  itu ada, dengan keputusan takdirnya “entah buruk atau baik.”

 

Yuda, yang juga seorang karikaturis, menawarkan medium gambar sebagai obat untuk menyembuhkan trauma anak-anak korban tsunami.

 

Setelah bertugas beberapa hari, dia meninggalkan anak-anak itu. Di sinilah saya lantas bertanya lagi, apa yang bisa kau berbuat lagi terhadap anak-anak sementara kau harus balik ke Jakarta. Yuda lantas menjawab, “Aku buatkan gambar foto diriku, dengan harapan mereka  selalu ingat saya dan pesan-pesan saya.”

 

Kupikir-pikir terapi temanku itu tidak lain adalah menghibur agar anak-anak itu bisa berusaha melupakan kejadian itu -- dengan kegiatan lainnya. Kali ini Andi menggunakan gambar sebagai hiburan.

 

Tapi, bagaimana dengan foto orang-orang hilang itu,  yang dibiarkan menempel dan dilihat banyak orang, sehingga ingatan itu selalu terjaga? Bukankah itu mirip dengan terapi gambar pantai indah yang diberikan temanku itu tadi kepada anak-anak itu?

 

Pertanyaan itu muncul kembali saat saya membuka kembali beberapa halaman surat kabar Serambi Indonesia dan Waspada. Di sana, ternyata, kudapatkan dua halaman berisi pengumuman  orang hilang -- berikut potret dirinya.

 

Kutatap foto diri mereka satu-satu, dan tidak terasa mataku berkaca-kaca. Kalau sudah  begini, aku lantas bertanya ulang: jadi, sebetulnya siapakah yang trauma? Adakah saya yang sudah 6 hari di sini (Banda), dan sebelumnya 7 hari tinggal di antara korban tsunami, ikut pula terkena trauma?

Aku tak begitu yakin akan jawabanku: apakah aku trauma atau tidak. Aku sendiri kesulitan punya satu kata yang tepat untuk mewakili apa yang disebut sebagai situasi perasaanku saat itu.

Mungkin kata yang mudah-mudahan bisa mewakili: menikmati kesedihan – kesedihan yang tidak menetap, tepatnya. Soalnya aku kadang-kadang aku masih tertawa, tersenyum saat melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu yang datang dari luar atau sisi dalam diriku. (Banda Aceh, Januari 2005, sebulan setelah bencana tsunami…).


Blog EntryMajalah Kereta Api, apa itu?Sep 10, '07 11:58 PM
for everyone

MAJALAH ini, namanya Majalah KA, seperti tertera di covernya -- secara tak sengaja kudapatkan di Stasiun Dukuh Atas, di Jalan Sudirman, Jakarta. Persisnya pada awal bulan Agustus lalu, tatkala aku hendak pulang dari kantor – tujuan stasiun kami adalah Pondok Ranji, di kawasan Sektor 7 Bintaro Jaya.

 

“Majalah kereta api, apa ini?” mataku langsung tertuju pada majalah seharga 24 ribu 500 rupiah ini. Dibandingkan majalah ini, cover majalah ini jauh berbeda dengan majalah atau tabloid lainnya. Dia satu-satunya yang bergambar kereta api, sedang lainnya biasanya potret perempuan cantik atau figur seseorang.

 

Kubaca berulang-ulang majalah itu, kulihat gambarnya, dan kucermati siapa pengelolanya. Rupanya, media ini dikelola oleh orang-orang yang kusebut sebagai ‘tergila-gila’ kepada kereta api – dan dunianya.

 

Majalah ini sudah terbit sejak setahun silam, dan terbit setiap bulan. Penampilannya cukup luks, gambarnya semua berwarna, dan liputannya semuanya terkait dengan kereta api:  mulai sejarah sebuah lokomotif uap atau diesel, peran sebuah pengelola stasiun, matinya sebuah jalur kereta, hingga feature foto tentang kereta besi itu..

 

Mestinya aku tidak kaget melihat kehadiran majalah itu. Soalnya, dari browsing internet, sebetulnya sudah ada aktivitas orang-orang penggila kereta api – sebuah tradisi yang  juga berlaku di manapun, utamanya yang wilayahnya dilalui kereta api. Mereka, para penggila itu, juga menerbitkan media yang sama (saya pernah secara iseng menemukan website penggila kereta api, yang pengelolanya melakukan semacam safari, melacak jalur rel kereta di Pulau Madura yang sudah lama mati. Mereka mencari eks stasiun di sejumlah kota, untuk sekedar melihat dan mendokumentasikannya…)

 

Tapi, faktanya, aku akhirnya tergiur setelah menelaah isi majalah itu. Ujungnya, ehm, aku ingin sekali mendapatkan edisi-edisi sebelumnya. Tidak sampai di situ, setiap awal bulan, aku mencermati pedagang majalah di stasiun Duku Atas. Dan alangkah senangnya, tatkala majalah KA edisi September, terbit pada awal bulan ini. Pada liputan khususnya, mereka mengangkat jalur kereta api di Madiun dan sekitarnya. Mereka juga mengangkat jalur kereta api tertua di Indonesia, yang melintas dari kota Semarang ke sebuah kota kecil di wilayah itu..

 

Pertanyaannya sekarang, mengapa aku begitu cepatnya kemudian jatuh cinta kepada majalah itu berikut isinya? Kufikir-fikir, ini bagian dari masa laluku, masa kanak-kanak, yang belum digali. Saat itu aku memang tergila-gila kereta api, walaupun obsesi hilang-turun seiring aku tumbuh menjadi dewasa. Kini, kenangan masa lalu itu tumbuh lagi…   


Blog Entry40 Tahun Oom Pasikom: Karikatur Tepo Seliro…Aug 22, '07 11:34 PM
for everyone


GM Sudarta, seorang karikaturis yang dianggap paling berpengaruh di Indonesia, sejak bulan Juli lalu sampai Januari tahun depan, memamerkan karya-karya karikaturnya --yang dibuatnya sejak tahun1967 sampai sekarang. Inilah pameran karya lelaki kelahiran tahun 1945 yang disebut paling lengkap dan terbesar, sejak pencipta toko kartun Oom Pasikom pada rubrik karikatur Surat Kabar Kompas ini menekuni profesi tersebut.

PENAMPILAN Gerardus Mayela, atau GM Sudarta, 62 tahun, tetap tidak berubah: selalu berpakaian serba hitam dan gampang mengumbar senyum. Kegemarannya bermain piano juga dia perlihatkan, di sela-sela pembukaan pameran karikaturnya di Bentara Budaya, Jakarta, pada awal Juli lalu. Di ruangan itu, lebih dari 100 karya-karyanya, yang sebagian besar menampilkan tokoh kartun rekaannya, yaitu Oom Pasikom, dipamerkan.

"Waktu itu tahun '67, saya ingin punya mascot, karena saat itu koran-koran lain pakai mascot, dan saya ingin wajah seorang yang di atas angin dan tidak pihak kemana-mana," katanya.

Saat itu, Sudarta membayangkan, toko rekaannya itu lahir tahun 1930-an, sehingga tidak masuk Angkatan '45 atau '66 - saat itu memang tengah ada dualisme masalah latar belakang 'angkatan'. Dan dia tidak terjebak dalam situasi pengkotakan seperti itu. "Sehingga saya bikin orang yang khas internasional. Dia senang pakai jas meski tambalan, serta dia senang pakai topi golf karena suka main golf, dan dia suka berbahasa Belanda," jelasnya.

Dari pencarian itulah, kemudian lahirnya seorang toko karikatur yang diberi nama Pasikom. "Nama itu muncul setelah saya baca sebanyak 3 kali… si Kompas, si Kompas, si Kompas, nah muncullah nama itu. Lalu saya panggil oom sebagai paman, karena orangnya sudah setengah tua," kata GM serius. "Itu awalnya muncul toko Om Pasikom…"

Melalui tokoh kartun Oom Pasikom itulah, yang dimuat di Surat Kabar Kompas sejak 40 tahun silam, Sudarta melontarkan kritik terhadap segala carut-marut persoalan di Indonesia. Tetapi yang barangkali membedakan dengan karya karikaturis lainnya, Sudarta tidak lupa menyisipkan humor.

"Dia bisa mengkritik melalui gambar tapi lucu, mungkin yang dikritik tak marah. Jadinya kayak-nya mengena tapi tidak menyakiti," ujar seorang ibu, pengunjung pameran GM. Yang lainnya berkomentar,

"Kritiknya lucu, jadi saya senang. Gambarnya juga dikenal, saya tahu ini karya GM, meski nggak ada tandatangannya."

Humor itu nyawa

BAGI lelaki kelahiran Klaten, Jawa Tengah ini, humor dalam karikatur adalah ibarat nyawa. Menurutnya, dengan gambar lucu serta humor, karikatur dapat memancing orang untuk tertarik, kemudian melihatnya. "Termasuk pejabat yang saya kritik, sehingga ada kemajuan, ada perbaikan," kata peraih peraih Best Cartoon of Nippon tahun 2000 ini. "Jadi tugas karikatur tidak untuk mengubah pendapat, mendobrak atau revolusi."

Karena itulah, GM yang pernah mengenyam pendidikan di ASRI Yogyakarta ini, karikatur hanyalah menyampaikan misi perbaikan saja. Masalah apakah itu berhasil atau tidak, "itu bukan tanggungjawab saya," tegasnya seraya menambahkan karikatur juga mengemban tugas sebagai penghibur.

Dan yang lebih penting lagi, menurutnya, karikatur adalah katup pembuka untuk tekanan sosial masyarakat. "Buat masyarakat yang kecewa dengan, keadaan sekarang, seperti keadaan Lapindo, korban tsunami yang kasusnya masih terlunta-lunta, bisa terhibur dengan adanya karikatur," kata GM.

Sudarta memang dikenal sebagai karikaturis yang hati-hati, dan jauh dari sarkastik. Di masa Orde Baru, di mana pers dikontrol sepenuhnya, menurut Sudarta, sikap seperti itu dibutuhkan.

Tapi walaupun situasi politik sekarang jauh lebih bebas dibandingkan masa Orde Baru, karakteristik karya pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah ini, ternyata tidak banyak berubah. "Kartun pun ada etikanya," tegasnya.

Dia lantas menunjukkan sikap karikaturis sebuah media harian di. "Saya lihat teman-teman di harian Rakyat Merdeka. Kalau orang dikatakan kayak gareng, petruk, badut, Charlie Chaplin, pasti nggak marah. Tapi kalau kamu dikatakan kayak anjing, pasti marah," katanya serius.

GM kemudian memberi contoh karikatur yang lahir saat terjadi sengketa Indonesia dan Australia tentang masalah Papua. "Menlu Downer dibikin kayak anjing bersenggama, tentu itu akan menimbulkan amarah, dan tentu saja itu tidak enak. Dan, masyarakat Australia yang vulgar akhirnya bikin kartun yang sama, SBY menaiki orang Irian yang berekor dan bersenggama. Nah, di sini karikatur itu juga bikin orang marah 'kan," jelas GM. "Karena itulah saya setuju komentar Menlu Downer. Dia mengatakan, 'ah itu selera rendah… Ya, saya juga menganggap itu selera rendah…"

Menurut Yusuf Susilo Hartono, seorang perupa yang mengikuti terus karya-karya GM Sudarta, sikap hati-hati GM tidak terlepas dari gaya kepemimpinan surat kabar Kompas -- yang dianggapnya berpengaruh besar atas Sudarta dan karya-karyanya. "Tapi yang menarik adalah perkembangan karya mas GM, dari awal sampai sekarang, yang menurut saya ada beberapa fase," kata Yusuf Susilo.

Waktu masih mudah, menurutnya, gambar-gambar GM tidak seindah seperti sekarang, tapi lebih peka dan keras dalam menafsirkan keadaan. "Tapi setelah ketemu Pak Jacob Oetama, mas GM tahu harus bagaimana membuat kartun yang gaya jawa sesungguhnya," kata Yusuf Susilo. "Tidak ada pretensi mengubah seseorang, tapi memperbaiki, itu pun kalau bisa."

Karikatur Tepo Seliro

KENDATI dianggap terlalu bersikap hati-hati, tidak berarti karya-karya GM - yang pernah memenangkan penghargaan karikatur di Jepang -- sepenuhnya bebas sensor. "Seperti kartun tentang DOM (daerah operasi militer) Aceh, yang huruf O- nya saya buat seperti tengkorak, itu nggak pernah kita muat, karena Pak Yakob bilang itu terlalu seram..nanti marah. Tapi saya gak apa-apa," papar Sudarta.

Penasaran akan jawabannya, saya lantas bertanya lebih lanjut: "Seingat Pak GM apa alasannya pelarangan itu?"

"Terlalu tajam dan lucunya jadi kurang dalam situasi perang kayak gitu (operasi militer) di Aceh."

"Jadi, gambar tengkorak itu akhirnya tidak pernah dimuat?" saya bertanya lagi.

Dia menjawab seraya tersenyum tipis, "Nggak pernah, tapi akhirnya saya pasang di pameran dan buku."

Kejadian seperti ini sering?

"Oh, banyak, banyak dan saya sadari itu.. Dalam beberapa hal saya emosional, inginnya menyerang. Nah, Pak Yakob ingatkan, bahwa kartunis itu tidak mendobrak, mengubah pendapat. Dia cuma melakukan misi perbaikan, itu saja."

Menyikapi seperti itu, apa yang sebaiknya yang dilakukan seorang karikaturis jika karyanya tak dimuat? Saya bertanya lagi.

"Ya, saya simpan, saya dokumentasikan. Nanti kan bisa dibukukan. Dan ini saya sadari. Di Indonesia itu seperti itu, hati-hati, tepo seliro, begitulah.."

Yusuf Susilo Hartono menganalisa, karya-karya karikatur GM Sudarta pada periode sekarang, memasuki fase kematangan "Perubahan mas GM itu menuju kematangan, baik kematangan pribadi atau Kompas, dalam menyikapi bangsanya," katanya.

Diakuinya, pada situasi yang serba bebas sekarang, para karikaturis menghadapi tantangan yang lebih rumit. "Karena semua orang bisa menyampaikan kritik," tandasnya.

Di mata GM Sudarta, berkarya melalui karikatur tidak harus bermuara kepada perubahan. Menurutnya, karya-karyanya lebih menjadi katup pembuka dari tekanan-tekanan sosial. Dan di dalam memerankan tugas seperti itu, Sudarta mengaku pernah mengalami semacam kelelahan akut. "Saya pernah sakit lebih 3 bulan, nggak tahu kenapa. Saya di RS Carolus pada tahun '85, tapi nggak pernah saya sakit apa, tipus bukan, panas tapi nggak jelas," ungkapnya.

Diagnosa dokter yang merawatnya juga mengatakan, semua hasilnya negatif, sehingga "dokternya sampai bingung," celetuknya. "sehingga saya dikira kena sawan."

Sampai kemudian, ketika para kolega dan teman-temannya menjenguknya, mereka memberikan semacam jalan keluar. "Teman-teman psikolog seperti Sartono Mukadis, dan pelukis Abas Alibasya bilang 'udah melukis saja'. Mereka bilang begitu, karena waktu itu saya terlalu banyak (berhadapan) dengan (situasi) Orde Baru, tapi saya nggak bisa bikin karikaturnya," jelasnya. "Akhirnya saya melukis, dan boom-nya sampai sekarang melukis juga untuk dana di luar GBHN, ha, ha.., "GM terbahak. "Keseimbangan saja kok mas, ternyata itu betul…"

Sebagai karikaturis yang dibesarkan surat kabar berpengaruh, Sudarta mengaku bersyukur. Dia tidak membantah jika profesi karikaturis sekarang masih dipandang rendah di dalam dunia jurnalistik di Indonesia. Namun Sudarta tidak menyalahkan siapa-siapa. Ini adalah bagian dari masalah yang lebih besar, begitu kata Sudarta dengan mimik serius.

Tapi saat ditanya alasannya kenapa berpakaian serba hitam, ayah dua anak ini kembali membuka senyumnya.

"Yang serius, kotor nggak kelihatan. Baju satu nggak kelihatan. Yang tidak serius, saya lihat masih ada suku-suku bangsa yang suka makai (baju) hitam, karena mereka berpendapat, hitam itu warna gelap, warna yang kita tidak tahu sebelum kita lahir dan sesudah hidup. Dan saya pakai hitam, ya itu lagi yang serius, kalau pakai hitam nggak kelihatan...,"lelaki berambut panjang itu tertawa.

Berapa setelan hitam yang bapak punya? Saya iseng bertanya. "Ha, ha, berapa dik?" GM menoleh kepada dua orang anaknya, yang sejak tadi mendampingi. "Ratusan… banyak sekali," celetuk salah-seorang anaknya. Wawancara akhirnya berakhir, dan GM menutup dengan gaya khasnya: santun seraya tersenyum. ***

 (Disiarkan Radio BBC Siaran Indonesia, oleh Heyder Affan, pada Rubrik Seni dan Budaya, Minggu, 8 Juli 2007)


Blog EntryDili, Agustus 2006Aug 14, '07 10:36 PM
for everyone

”JANGAN coba-coba berani jalan sendiri di kota Dili di atas pukul 5 sore, kalau ingin selamat,”  itu pesan yang saya terima dari seorang sopir taksi, yang kemudian menjadi sahabat, bernama Fransisco Carvalho, atau biasa dipanggil Siko.

Kejadiannya 1 hari setelah saya mendarat di kota Dili, awal Agustus 2006. Awalnya saya tidak percaya. Tapi tidak membutuhkan hitungan hari, malam pertama di kota Dili, akhirnya saya habiskan  di kamar dan ruangan makan Hotel Tourismo, karena di luar begitu sepi, dan memang tidak satu pun terlihat petugas polisi yang bertugas. Padahal, kata Siko, “Kalau situasi normal banyak orang pecaran di depan hotel, tempat abang menginap.”

 

Namun sejujurnya, yang layak takut adalah penduduk asli kota Dili, utamanya warga dari wilayah timur negara itu. Mereka inilah yang banyak menjadi korban kerusuhan 4 bulan sebelumnya. Pelakunya adalah orang-orang dari warga bagian barat, yang jumlahnya lebih banyak berdomisili di kota itu.

 

Siko, sopir taksi itu tadi, pernah begitu khawatir, saat saya minta diantar ke wilayah Komoro, tidak jauh dari Mesjid An-nur, sebuah wilayah yang rawan tawuran. “Saya antar abang, lalu saya segera pulang ya,” begitu dia mewanti-wanti – berulang-ulang.

 

Praktis yang telihat banyak di jalanan, setelah aparat polisi dilarang bertugas, adalah semacam satpam yang diorganisasi sebuah perusahaan keamanan bernama Maubere Security. Mereka biasanya digaji untuk menjaga rumah mewah, kantor –kantor bank, serta supermarket, dan kantor milik pemerintah. Tapi masih kata Siko, “mereka tetap saja lari ketakutan seperti kerusuhan kemarin.” 

Bagaimanapun untuk mengatakan bahwa keamanan di kota Dioli telah berjalan optimal, setelah kedatangan pasukan internasional dari Portugal, Malaysia, Australia dan Selandia Baru,  rasanya tidak sepenuhnya benar.

 

Pada hari keempat, setelah saya tinggal di Dili, misalnya, sebuah asap hitam masih mengepul dari kawasan Komoro, pertanda masih adanya pembakaran terhadap rumah warga timur. Juga masih terlihat aski pelemparan batu di sebuah lokasi pengungsi di kota Dili, persis di depan hotel paling mewah, Hotel Timor.

 

Dan bukan sesuatu yang bisa ditutup-tutupi lagi,  jika di antara pasukan internasional, ada persoalan ego atau persaingan di antara mereka. Seorang warga kota ini, yang enggan disebut namanya, bercerita, gara-gara tidak ada koordinasi diantara pasukan itu, kerusuhan sulit dikontrol.

 

Tapi seperti diceritakan mantan Gubernur Timor Timur di masa Indonesia berkuasa, yang kini menjadi anggota parlemen dari Partai Sosialis Demokrat, Mario Carascalao, warga kota ini tetap membutuhkan tentara asing, walau sebagian masyarakat membencinya.

Apa yang diutarakanya Carascalao itu tadi,  adalah gambaran betapa pemerintah Timor Leste lebih bersikap realistis dan bersandar sepenuhnya kepada bantuan negara-negara tersebut.

 

Tapi, tidak bisa dibantah, ini juga menunjukkan betapa lemahnya peran penegakan keamanan dan hukum pemerintahan Ramos Horta.

 

Kasus terakhir, adalah kaburnya  seorang pimpinan  tentara pemberontak dari penjara pemerintah di wilayah Bekora, yang dikesankan sebagai tidak seriusnya kerja aparat pemerintah. Dan contoh lain yang paling jelas, adalah ketika ancaman Perdana Menteri Ramos Horta untuk memindah paksa pengungsi dari tenda-tenda, gaungnya tidak pernah terdengar.

 

Puluhan ribu pengungsi tetap memilih menetap di tenda-tenda. Karena, menurut salah-seorang diantaranya, Agustinho, “pemerintah tidak bisa menjamin bahwa mereka tidak akan dibunuh warga bagian barat saat pulang ke kampungnya”.

Memang sudah ada upaya rekonsiliasi oleh LSM dan perorangan, tapi Siko, juga pendeta yang juga pimpinan komisi rekonsiliasi, Augustinho da vas Conselos, mengaku pesimis, persoalan itu bisa cepat selesai.

 

“Rasanya proses penyembuhan bakal meminta waktu yang lebih lama, daripada kasus serupa di jaman Indonesia berkuasa, karena konflik terjadi antara masyarakat Timor Leste sendiri.” Ini kata-kata yang diucapkan Augustinho, yang rumah dan perabotnya dikabar dan dijarah gara-gara dia berasal dari Timur, dan kakak lelakinta adalah petinggi tentara negara itu.

 

Dan kalau rekonsiliasi yang dipilih, agaknya sebagian warga kota ini, menyatakan sudah muak dengan kata-kata itu, karena, “kata rekonsiliasi hampir kehilangan makna,” kata  pegiat LSM dari Yayasan Hak, Amadio Hai. Dan biasanya yang dijadikan rujukan adalah proses rekonsiliasi dengan Indonesia yang dianggap mengorbankan orang-orang yang keluarganya dibunuh oleh milisi saat jajak pendapat tahun 1999.

 

Namun ketika saya tanyakan, kalau yang dipilih adalah jalur hukum, apakah perangkat negara Timor Leste sudah siap. Orang-orang yang paham akan seluk-beluk dunia hukum di negara liliput itu, akan mengatakan: proses hukum tidak akan mungkin terjadi, karena menurut Pastur Mastinho da Silva Gusmao dari Diosis Baucau, para elit politik di Timor Leste tidak ada yang bersikap tegas.

 

Itulah sebabnya dengan nada sedikit bergurau, Pastur Mastinho,  mengaku kepada saya, “Saya akan pindah warga negara, kalau aktor intelektual kerusuhan kemarin diseret ke meja hijau.” (Disiarkan Radio BBC Siaran Indonesia, dalam rubrik Kartu Pos, akhir Agustus 2006)

 

DRENG, dreng…, ting, tang…, buuus…," bunyi genderang dan gending, serta asap kemenyan yang membumbung di salah-satu ruangan Musium Nasional Jakarta pada Kamis malam lalu, mengiringi kehadiran 7 orang penari pria di atas panggung. Mereka mengenakan penutup kepala blangkon, selendang, dengan gerak serba pelan, tetapi tetap terlihat tegap.

Begitulah adegan awal tarian klasik yang berumur lebih 300 tahun ciptaan Raja Mangkunegaran I, Raden Mas Said, berjudul Bedhoyo Mataram Senopaten Dirodo Meto. Dalam Bahasa Indonesia, tarian itu kurang-lebih berarti Tarian Kesatria Mataram yang bak gajah mengamuk…

Ketua pelaksana harian pagelaran ini, Agus Haryo, menjelaskan, tarian ini untuk mengenang 15 orang satria andalan Mangkunegaran dalam pertempuran dengan Pasukan Belanda di sebuah hutan, tidak jauh dari wilayah Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 1756. "Pertempurannya berlangsung seru, pasukan Mangkunegaran berjumlah 85 orang, sementara musuhnya mencapai seribu orang," jelas Agus Haryo.

Dikisahkan dalam pertempuran itu, 15 orang prajurit Mangkunegaran tewas. Kejadian ini, tentu saja, membuat sang raja sedih luar biasa. Untuk menghormati kelima-belas prajurit itu, Raden Mas Said kemudian menciptakan tari tersebut. Itulah sebabnya, walaupun tarian itu berlatar peperangan, nada sendu lebih banyak terdengar dalam pagelaran tarian itu. "Memang di bagian tengah, ada nada minir, senduh dan itu sungguh mengharukan," kata Daryono, ahli tari klasik Jawa yang juga penari dari tarian ini.

Dan saat para penari beraksi di atas panggung yang didominasi warna hitam, para pengunjung - sebagian diantaranya adalah warga asing -- tidak ada satu pun yang beranjak dari tempat duduknya, selama lebih dari 1 jam pertunjukan. Mereka tampaknya paham bahwa tarian ini belum pernah digelar di publik dalam jangka waktu seratus tahun lebih. "Kita perkirakan, malah lebih 100 tahun," tandas Agus Haryo.

Agus menjelaskan, tarian itu tidak pernah dipentaskan lagi karena dilatari persoalan politik. Kesimpulan ini didapatkannya berdasarkan hasil diskusi dengan para peniliti dan ahli tari Institut Seni Indonesia Surakarta, serta data dari buku tentang restrukturisasi budaya Jawa. "Kenapa tidak pernah dipentaskan, karena akan menyinggung pemerintah Hindia Belanda dan keraton lainnya, sehingga diputuskan oleh keturunan Mangkunegaran 6 dan 7, agar tidak dipentaskan lagi," jelasnya.

Walaupun musuh utamanya adalah Belanda, tetapi sejarah juga mencatat, saat itu perpecahan tengah melanda anak-cucu pendiri Kerajaan Mataram. Perpecahan itu, seperti diketahui, menyebabkan berdirinya berbagai dinasti keluarga kerajaan di Yogyakarta dan Surakarta. Perpecahan itu, menurut Agus, kemudian dimanfaatkan pemerintahan Kolonial Belanda, dengan memecah-belanya. "Nah, makna tarian itu menjadi masalah yang sensitif, karena ditakutkan menyinggung keraton lainnya," jelas Agus Haryo.

Semenjak itulah, tari Bedhoyo Mataram Senopaten ini nyaris terlupakan, hampir hilang, sekian ratus tahun. Menurut Agus, setelah Mangkunegaran 1 diganti cucunya yaitu Mangkunegaran 2, mulai saat itulah tarian ini hilang dari catatan sejarah, sehingga tidak terdeteksi lagi. "Pernah ditarikan lagi saat pejabatnya adalah mangkunegaran 4, tapi setelah itu tidak pernah lagi, " jelasnya. Akibatnya kemudian, tarian itu tidak dikenal lagi, dan yang tersisa adalah gerak dasar dan gending yang masih dikenali.

Dan lebih dari seratus tahun kemudian, semangat untuk merekonstruksi kembali, itu muncul kembali. Para keluarga besar, kerabat serta dan orang-orang yang peduli terhadap keberadaan tari sakral tersebut berupaya menghidupkan kembali, bertepatan 250 tahun Puro Mangkunegaran di Kota Surakarta. Berbagai upaya disiapkan dan dilakukan untuk menghidupkan kembali tarian yang nyaris punah itu.

Rekonstruksi Ulang

MELIBATKAN ahli tari, dokumentasi sejarah, serta catatan pribadi sang raja, maka proyek rekonstruksi atas tari Bedhoyo Mataram Senopaten itu pun digelar. Pertanyaannya kemudian, seperti apa dan bagaimana mereka melakukan proyek rekonstruksi itu?

Daryono, ketua tim peneliti dalam proyek rekonstruksi tari itu, mengatakan, upaya ini relatif sulit dilakukan. Dia memberi contoh, setelah beberapa bulan 'mengembara', pihaknya hanya menemukan syair (cakepan tembang). Tapi mereka tidak putus asa, karena, "Berdasarkan riset fakta sejarah yang ada, kami akhirnya menafsirkan kembali fakta itu dalam bentuk abstraksi yang kami hayati, dan kami tuangkan dalam bentuk komposisi," terang Daryono, yang juga dikenal sebagai staf pengajar program pasca sarjana Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Surakarta.

Dan, setelah memakan waktu berbulan-bulan, akhirnya rekonstruksi tari tersebut selesai sudah. Sebelum pertunjukan itu digelar pada Kamis malam lalu, saya sempat menyaksikan latihan terakhir mereka. Daryono, yang disebut koordinator dalam tarian itu, terlihat serius memimpin latihan itu.

Menurutnya, sebagai orang yang dipercaya sebagai penari Bedhoyo Mataram Senopaten, itu adalah tugas yang tidak main-main. "Seperti lain sekali, ketika akan menarikan Bedhoyo Mataram, karena ini khusus dan baru sekali teman-teman melihat bentuk bedhoyo ini ditarikan pria, karena selama ini penarinya putri, katanya."

Kejadian Aneh

LATAR belakang tarian yang sedemikian rupa, lanjutnya, juga membuatnya perlu berhati-hati. "Perasaan kami juga bangga, tetapi perlu juga kehatian-hatian, kepasrahan, 'kemenepan', yang kita bangun sejak lama, supaya dapat menghayati, agar nanti bisa memberi aura tarian itu sendiri yang imbasnya kepada para penghayat atau penonton," jelas Daryono.

Kesan sakral dari tarian itu, memang terlihat sebelum pagelaran itu Diwarnai asap dupa yang keluar dari tembikar yang dibawa seorang lelaki tua, Ketua panitia, Agus Haryo dihadapan pengunjung, membaca salah-satu surat dalam alquran. "Kenapa sakral, karena tarian ini menjadi monumen perjuangan. Ini luar biasa, karena tidak dimiliki Bedhoyo lainnya," ujar Agus Haryo.

Itulah sebabnya, masih menurut Agus, pihaknya melakukan berbagai persiapan yang, "tidak main-main, seperti melakukan selamatan, berdoa...," ujarnya.

Meskipun sulit dipercaya, Agus memberi contoh kejadian aneh sebelum pagelaran tari ini di Puro Mangkunegaran, pada bulan Maret lalu. Saat itu, katanya, tiba-tiba ada gempa. "Nah sekarang, Rabu kemarin, tiba-tiba ada gempa mengguncang Jakarta. Memang ini kesannya mistik, tapi, ya Allah.., ya mau dibilang nggak-sakral, tapi nyatanya sakral," kata Agus.

Upaya persiapan seperti itu, ternyata, tidak hanya dilakukan Agus dan panitia lainnya, namun juga kalangan penari. Daryono mengatakan, para penari bahkan mendatangi makam Mangkunegaran satu, untuk meminta semacam safa'at. "Kami juga melakukan pendekatan seperti dilakukan master-master tari terdahulu, yaitu mendoakan beliau, dan safa'atnya bisa direfleksikan kepada kami, yang punya niat baik untuk merevitalisasi karyanya," demikian penjelasan Daryono.

Dan seperti diharapkan Daryono, para penonton tampaknya menghayati tarian itu. Tepuk tangan berulang-ulang ditunjukkan para pengunjung, setelah gending terakhir dan penari menuruni panggung. Seorang penonton pria mengatakan "sangat indah", sementara penonton lainnya berkomentar "ini tari klasik yang punya nilai tinggi" dan lainnya berujar "pementasan ini istimewa sekali karena jarang digelar…"

(Laporan ini disiarkan dalam rubrik Seni dan Budaya, Radio BBC Siaran Indonesia, Hari Minggu 12 Agustus 2007, pukul 18 lebih 15 menit, oleh Heyder Affan)


Blog EntryAremania Itu Apa Aug 9, '07 12:59 AM
for everyone


MENGENANG suatu siang, jauh di belakang sana, pada hari-hari awal masa Kampanye Pemilu 1992 di sekitar alun-alun bunderan Malang. Iring-iringan simpatisan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan seragam serba hijau berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk gambar bintang. Ada nada marah di wajah mereka, juga dendam. Pemilu 1992 memang masih sekedar sandiwara, tak perduli dukungan sebesar apapun sudah jelas Golkar menang mutlak. Dan pawai kampanye jadi salah satu ajang pelampiasan kekesalan, seperti terlihat dari iringan massa PPP. Di pinggir, orang-orang menyambut riang, seraya mengangkat tangan tinggi-tinggi. Hanya sekian menit kemudian mendadak wajah mereka berubah pucat, tatkala dari arah berlawanan muncul pula arak-arakan Golkar, berwarna kuning dan lambang pohon beringin; musuh bebuyutan!

"Wah, ruwet iki pasti tawuran," celutuk mereka yang di pinggir jalan sambil beranjak menjauh dari kemungkinan bentrokan. Semakin mendekat arak-arakan, aroma amuk pun terasa menyebar. Kedua gerombolan pasang kuda-kuda. Besi, pentungan, batu, rantai, sudah ditangan. Hujatan, cacian dan provokasi mulai keluar. "Golkar keat, dancuk!" PPP bedes! Kerek!"

Seperti diduga, batu-batu melayang. Bagaimanapun dalam situasi chaostik itu, masih ada yang berupaya tetap dingin --turun dari truk dan melerai massa masing-masing. "Hop, hop! (berhenti,berhenti!) Dancuk, keat kabeh! (Dancuk, semua tai!) Iki podo Ngalam, podo Arema, kok tarung! (Sesama warga Kota Malang, sesama Arema, kok berkelahi!) Ayo salaman!" Suasana amok mencair drastis. 'Arema' rupanya bertuah, punya magis, seperti imam yang harus dipatuhi. 'Arema' menyebar senyum, menggali kekerabatan dan kedua rombongan melanjutkan perjalanan, seolah tidak ada lagi tarung kepentingan politik. Arema?
***

Arema; Arek Malang atau anak Malang. Sedangkan Ngalam kebalikan Malang, kota yang tak begitu kecil dan tak begitu besar, penghasil apel hijau yang asem-asem manis, dan dulu pernah bercuaca amat sejuk. Malang, hanya sekitar satu jam perjalanan dari Ibukota Propinsi Jawa Timur, Surabaya, namun menempatkan jurang yang cukup jauh dalam karakter komunitas, paling tidak komunitas anak muda.

Semula Arema digunakan sebagai identitas anak-anak muda asal Malang pada tahun 70-an dan awal 80-an, khususnya bagi yang merantau Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Istilah itu juga akrab di kalangan geng-geng anak muda Malang, yang saat itu sedang menggejala. Belakangan, kata Arema dipakai resmi jadi nama klub sepakbola profesional Malang yang didirikan pertengahan tahun 80-an. Pendirinya mantan Gubernur Irian Jaya, Acub Zainal. Arema makin menjulang, dan menjadi kebanggaan anak-anak muda di kota, yang dijuluki sebagai kota kaum pensiunan itu, setelah Arema memenangkan Piala Galatama 1987. Bayangkan betapa besarnya makna Arema yang terangkat oleh sebuah klub sepakbola pendatang baru dari sebuah kota ukuran menengah, Malang, yang menjungkirkan nama-nama besar macam Niac Mitra Surbaya maupun Pelita Jakarta.

Kebesaran Arema terus terpelihara sampai sekarang. Jangan heran, hampir di semua sudut kota Malang, termasuk di gang-gang sempitnya, diriuhi coret-coret logo klub Arema ; singa mengaum dengan dasar biru tua. ''Kegilaan mereka terhadap klub sepakbola kesayangannya, mirip kegilaan fans sepakbola manca negara,'' ungkap wartawan Kompas, Putu Fajar Arcana, yang bukan asli Malang, waktu melukiskan ekpresi penggila bola kota Malang. Dia menulis, "Jangan diragukan lagi sepakbola bagi masyarakat Malang ibaratnya rokok bagi lelaki. Olahraga 'rakyat' ini menjadi keseharian yang serius. Bahkan dianggap sebagai ekspresi 'kejantanan'. Bisa jadi penilaian wartawan tadi agak berlebihan, tapi ada benarnya jika menengok Arema menggelar pertandingan di Stadion Gajayana, Malang. Stadion yang berkapasitas 17.000 orang itu dipadati sampai lebih 25.000 orang. Belum lagi, aktivitas pendukung resminya yang mencapai 25.000, dengan 'perwakilan' yang dapat dijumpai di Jakarta, Denpasar atau Batam.

Salah satu contoh konkrit tatkala PS Arema, yang kini dikelola Lucky Zainal, berhasil melaju ke delapan besar Liga Sepakbola di Stadion Senayan tahun lalu. Ketimbang penggila peserta delapan besar yang lain, kehadiran suporter Arema paling semarak penampilannya, sehingga hampir semua media terbitan Jakarta saat itu mengangkat khusus gejala itu. Sebuah tabloid mingguan olahraga malah menampilkan foto ekspresi para Aremania dalam dua halaman penuh. Lebih dari itu, seorang penggila bola yang melihat lewat layar kaca kecele mengira ekpresi Aremania di stadion senayan itu adalah penggila bola asal Inggris. "Tak hanya rancangan kostum yang menarik," tulis Harian Kompas," tetapi juga lagu-lagu ciptaan mereka sendiri untuk mengangkat moral timnya."
***

Lantas apa hubungan antara kejadian di sebuah siang Kampanye Pemilu 1992 dengan Aremania? Ekspresi 'kegilaan' penggemar sepakbola di Malang jelas bisa terjadi di kota mana saja, terutama di kota-kota di mana sepakbola dinisbatkan seolah sebagai iman, sebagai agama, macam di Brazil atau Inggris. Fenomena seperti itu barangkali juga terlihat di komunitas bola di Makasar, Surabaya, atau Medan. Namun, tatkala kegilaan itu -- melalui identifikasi Aremania sepakbola -- menjadi sebuah semacam 'kanalisasi' konflik atau apalah -yang jelas bisa meredakan konflik-- tentu membuka banyak penafsiran.

Ada banyak contoh dari pengaruh langsung identifikasi lewat Arema dalam meminimalkan bentrokan atau gesekan antar kelompok masyarakat di Malang. Peredaman seperti kejadian Kampanye Pemilu 1992, antara Golkar yang super kuat dengan PPP yang merasa tertipu, acap terulang. Lantas saat kecamuk kerusuhan 1998 yang melanda sejumlah kota-kota lain, ternyata Malang, yang sudah dipadati pertokoan dengan 48 kampus dan 100.000 mahasiswa, luput dari aksi penjarahan dan demonstrasi anarkis. "Dengan memakai pendekatan ala Arema," ujar petinggi kota itu, saat ditanya resep pengamanan. Rupanya, saat itu ribuan preman dikumpulkan melalui perkumpulan suporter Arema, dan ditugaskan mengamankan kota. Berhasil. "Fenomena Aremania berkembang ke arah kepentingan ekonomi, sosial dan politik, dan bahkan keamanan," komentar sejumlah pengamat sosial atas kejadian itu.

Tentu proses identifikasi Aremania tidak begitu saja terjadi tanpa proses yang panjang. Makin mengentalnya identifikasi itu tak luput dari penggunaan bahasa walikan (balikan) di antara komunitas anak-anak muda Malang. Tidak diketahui secara secara persis kapan kebiasaan bahasa walikan itu dimulai. Ada yang bilang kebiasaan berbahasa seperti itu dimulai oleh anggota geng-geng Malang pada awal 70-an. Yang jelas melalui bahasa prokemnya anak-anak Malang, kata pengamat sosial budaya Universitas Negeri Malang (UM) Dr Djoko Sardjono, bahasa walikan makin mengentalkan proses identifikasi Aremania. Bahkan, mengutip Dr Djoko Sardjono, "Aremania sudah menjadi semacam subkultur, di mana terdapat persamaan emosi yang guyub di antara komunitas."

Saya sendiri pernah 'diselamatkan' oleh bahasa walikan khas Malang. Waktu itu di Stasiun Senen, Jakarta, saya ingin pulang kampung ke Malang tapi kehabisan tiket dan berdiri bingung di salah satu pintu masuk gerbong. Tiba-tiba muncul seseorang, berpenampilan menyeramkan, dan memang menodong saya minta duit. Tahu kalau dialeknya khas Malang, saya langsung menyergap dengan bahasa walikan. "Aku kadit ojir, jes!" (Aku tidak punya uang, mas!). Sekonyong-konyong dia pasang muka manis. Urusan selesai. Bagi anak-anak Malang, sudah jadi pegangan agar menggunakan bahasa walikan di kawasan Blok M supaya bebas dari tekanan para preman asal Malang yang memang banyak berlalu-lalang di sana.

Terhadap fenomena identifikasi aremania itu, muncul bermacam analisa. Sebagian pengamat --dengan sedikit genit dan bagi beberapa orang mungkin terasa berlebihan-- mengkaitkan hal itu secara kultural dengan fenomena proletar yang disimbolkan dalam diri Ken Arok, Raja Singosari pertama dari jaman abad ke 12 silam. Bekas kerajaan Singosari ini terletak di kecamatan Singosari, sekitar lima belas menit dari Pusat Kota Malang. Kata mereka, latar belakang Ken Arok adalah raja jelata, dan berhasil memfusikan berbagai kekuatan para preman, sekaligus para pendeta untuk melawan kerajaan Kediri. "Sepenggal sejarah itu, paling tidak menjelma dalam spirit Aremania. Paling tidak terlihat, saat Aremania menjadi benteng kota yang efektif untuk melawan perusuh saat reformasi bergulir," kata pengamat budaya Dwi Tjahyono (Kompas, 15 Desember 2000).

Analisa yang mungkin tergolong standard, dari para sosiolog -yang buat saya tamatan Ilmu Administrasi Negara Univeristas Brawijaya terasa masuk akal juga-- adalah bahwa fenomena Aremania disokong oleh suatu kesadaran bersama (kolektif) atas dasar persamaan emosi tentang betapa pentingnya melakukan identifikasi. Dan itu ditemukan anak-anak Malang melalui sebuah permainan sebelas orang dalam menendang dan merebut sebuah benda bundar. Olahraga khas orang-orang bawah itu kemudian dibungkus dalam sebuah kata yang sebelumnya sudah hidup di Malang secara sosial; Arema, dan kemudian dijahit lebih kuat lagi dengan bahasa walikan. Kaum muda Malang pun identik dengan sepakbola, Arema, dan bahasa walikan. Itulah dia Aremania.

(dimuat dalam situs Ceritanet, 12 Maret 2001)
***


© 2009 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Contact · Help